Bantul Perang Terhadap DBD

Bantul Perang Terhadap DBD

- detikNews
Kamis, 08 Des 2005 21:55 WIB
Yogyakarta - Jumlah menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bantul meningkat selama tahun 2005. Kondisi itu memaksa warga Bantul menyatakan perang terhadap DBD.Mereka mencanangkan tanggal 8 Desember 2005 sebagai hari perang terhadap DBD dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara masal tiga bulan tanpa henti. Pernyataan perang terhadap penyakit DBB yang telah menyerang ratusan warga itu disampaikan oleh ribuan warga se wilayah Bantul di Pendopo Paramsya Kabupaten Bantul, Kamis (8/12/2005). Perang terhadap DBD juga dilatarbelakangi adanya empat orang pasien DBD yang meninggal pada November 2005 lalu. "Kami tidak ingin ada warga Bantul yang terkena DBD lagi hanya karena tidak menjaga kebersihan lingkungan," kata wakil masyarakat Roesli yang juga Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Timbulharjo Kabupaten Bantul.Menurut Roesli pihaknya bersama warga masyarakat setiap hari Minggu secara serempak seluruh kampung di Bantul melakukan gerakan kebersihan lingkungan. Sebab secara umum kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masih rendah. Mereka akan membersihkan lingkungan agar terbebas dari sarang nyamuk dan jentik-jentik. "Sampah-sampah dibersihkan, jamban dikuras, genangan air di kampung-kampung dibersihkan," katanya.Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Abu Dzarin Noorhadi mengatakan sejak bulan Januari hingga Oktober 2005, di Bantul dijumpai 122 kasus DBD. Sebanyak empat orang diantaranya meninggal dunia. Pada bulan November lalu korban DB bertambah lagi dua orang meninggal sehingga total ada 6 orang korban meninggal."Kami telah menetapkan kasus DB ini sebagai Kejadian Luar Biasa. Sebab berdasarkan hasil uji laboratorium, virus yang sekarang menyerang merupakan virus mutasi yang lebih mematikan," katanya.Akibat adanya mutasi virus itu kata Dzarin, DB semakin membahayakan. Mutasi ini terjadi karena virus membentuk sistem kekebalan sendiri dan sekarang lahir virus baru. Daya serangnya pun jauh lebih ganas dan untuk sementara dinamai virus nyamuk generasi III. Menurutnya kalau virus terdahulu, pasien yang terserang pasti mengeluarkan bintik-bintik merah pada hari keenam atau ketujuh. Namun virus ini pada hari kedua trombhosit pasien sudah drop dan hari keempat pasien sudah shock. Pasien yang terserang pun tidak mesti mengeluarkan tanda-tanda berupa bintik-bintik merah. Mengingat keganasan virus mutasi ini, dia meminta agar warga segera membawa ke rumah sakit kalau ada anggota keluarganya yang mengalami panas. "Jangan sampai menunggu tiga atau empat hari karena akibatnya bisa fatal," tegasnya. (mar/)



Berita Terkait