Tok! Hukuman Mati 2 Gembong Narkoba dari Sumsel Dianulir

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 11:37 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi palu sidang. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Hukuman mati dua gembong narkoba dari Sumatera Selatan (Sumsel) Rustam dan Hendra Yanial Mahdar dianulir oleh Pengadilan Tinggi (PT) Palembang. Keduanya merupakan anggota sindikat narkoba ratusan kilogram (kg) sabu.

Penangkapan komplotan itu berawal dari pengungkapan jaringan narkoba internasional yang dilakukan jajaran Bareskrim Mabes Polri pada April 2019. Dari pengungkapan tersebut, polisi meringkus 14 tersangka dan menyita 137 kg narkotika jenis sabu. Dari penangkapan itu, kemudian dilakukan pengembangan.

Terenduslah Rustam dan Hendra. Lalu, Mabes Polri melakukan penangkapan dengan terlebihi dahulu menyergap dua mobil di area parkir SPBU di Jalan Lintas Palembang-Jambi Km 105 Musi Banyuasin dan berhasil menyita 10 kg sabu yang dibawa dari Tembilahan, Indragiri Hilir, Riau, menuju Betung, Sumsel.

Pada 11 Desember 2019, PN Sekayu menjatuhkan hukuman mati kepada Rustam dan Hendra. Duduk sebagai ketua majelis Irianty Khairul Ummah dengan anggota Andi Wiliam Permata dan Cristoffel Harianja.

Majelis beralasan hukuman mati telah sejalan dengan Konvensi PBB 1960 tentang Narkotika dan Konvensi PBB 1988 tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika, Pasal 3 Universal Declaration of Human Rights, dan Undang-Undang HAM. Ancaman hukuman mati dalam Undang-Undang Narkotika telah dirumuskan dengan hati-hati dan cermat, namun tidak diancamkan pada semua tindak pidana narkotika yang dimuat dalam UU tersebut.

Selain itu, dengan menerapkan hukuman berat melalui pidana mati untuk kejahatan serius seperti narkotika, Indonesia tidak melanggar perjanjian internasional apa pun, termasuk Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang menganjurkan penghapusan hukuman mati.

Simak juga video saat Pabrik Rumahan Sindikat Narkoba Digrebek:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2