Round-Up

Jejak Pasien 285 di Sulsel yang Divonis Corona Usai 4 Hari Wafat

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 08:40 WIB
RSHS Bandung melakukan simulasi penanganan pasien suspect corona, Jumat (6/3/2020). Simulasi itu untuk menunjukkan kesiapan RSHS dalam menangani pasien suspect corona.
Ilustrasi (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Makassar -

Pasien positif virus corona (Covid-19) nomor 285 di Sulawesi Selatan (Sulsel) baru divonis positif corona usai 4 hari meninggal dunia. Pasien wanita itu diketahui baru saja pulang dari ibadah umrah.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengungkapkan, almarhumah dari Tanah Suci kembali ke Makassar pada 3 Maret 2020 lalu. Sepekan kemudian tepatnya tanggal 10 Maret 2020 pasien 285 mulai mengalami diare dan batuk.

"Covid (kasus ke) 285 itu baru kembali dari umrah, seminggu kemudian (tanggal 10 Maret) mengalami keluhan diare dan batuk," kata Nurdin saat konferensi pers di kediamannya di Perumahan Dosen Unhas, Tamalanrea, Makassar, Kamis (3/20/2020).



Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Ichan Mustari secara terpisah sempat menjelaskan riwayat pasien 285 usai pulang dari umrah. Menurutnya, pasien 285 pulang umrah pada 3 Maret 2020 dan mengalami sakit seperti yang diungkapkan Nurdin. Namun pasien 285 saat mengeluhkan sakit masih dirawat di rumah, dan baru pada tanggal 15 Maret dilarikan ke salah satu rumah sakit swasta di Makassar.

"Tanggal 3 dia (pasien 285) pulang (umrah), dia sempat di rumah, kemudian tanggal 15 dia masuk (rumah sakit) meninggal," kata Ichsan Mustari.

Kembali ke penjelasan Nurdin, pasien 285 saat dirawat di rumah sakit sempat diperiksa terkait sakit yang dikeluhkan saat itu, yakni demam dan sesak nafas. Belum sempat tim dokter mengambil sampel swap, pasien 285 sudah meninggal dunia.

"(Pasien 285) dirawat di Rumah Sakit Siloam (Makassar) dengan keluhan demam, sesak, dan ketika dilaksanakan foto thoraks menunjukkan penomonia di kedua paru-paru. Dan yang bersangkutan belum kita mengambil sampel (sudah) meninggal dunia," ujar Nurdin.



Bahkan pasien 285 tidak sempat ditetapkan sebagai kategori orang dalam pemantauan (ODP), atau pasien dalam pengawasan (PDP). Sampel baru diambil sesaat setelah pasien meninggal dunia dan sampel swap tersebut dikirim ke Balitbangkes Kemenkes untuk dicek corona.

"Belum (ditetapkan) status, jadi sebenarnya pada saat meninggal baru kita mengambil sampel. Jadi kita mengambil sampel swap, tentu kita tidak tahu, (karena) yang bisa memberi penjelasan ini tentu yang memiliki keilmuan patologi," ungkapnya.

"Baru tadi (Kamis 19 Maret sore) kita menerima hasil bahwa almarhum itu terjangkit (corona). Jadi belum hasilnya kita dapatkan dari Jakarta, tanggal 15 (Maret) almarhumah sudah meninggal," tuturnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2