Kata Quraish Shihab soal Fatwa MUI Tentang Sholat Jumat dan Berjamaah

Rosmha Widiyani - detikNews
Kamis, 19 Mar 2020 21:07 WIB
Prof M Quraish Shihab
Quraish Shihab bicara soal Fatwa MUI tentang Sholat Jumat dan Berjamaah (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Pakar Ilmu Tafsir Al Quran, Profesor KH Quraish Shihab juga ikut berpendapat terkait fatwa MUI, yang menyatakan boleh meninggalkan Sholat Jumat dan mengganti dengan sholat dzuhur karena virus corona. Para dokter telah menyatakan, bergaul dengan siapa pun apalagi yang terinfeksi dapat membahayakan jiwa manusia. Karena itu harus diambil langkah untuk menghindarinya sedapat mungkin.

"Ketika Sholat Jumat berkumpul orang-orang yang bisa mengalami atau memberi penularan pada orang lain. Ulama lalu memberi fatwa tidak dianjurkan sholat berjamaah yang dikhawatirkan memberi dampak buruk bagi kesehatan. Karena itu tidak dianjurkan sholat berjamaah bahkan Sholat Jumat," kata KH Quraish Shihab dalam acara Shihab n Shihab dengan Najwa Shihab di Narasi TV, Kamis 19 Maret 2020.

Fatwa tersebut sebetulnya tidak hanya dikeluarkan MUI saja tapi juga ulama di Al-Azhar. Menurut KH Quraish Shihab, agama Islam selalu memberikan kemudahan bagi umatnya. Segala sesuatu yang dapat mengakibatkan kesulitan terhindarkan dengan Islam, atau diupayakan menghindarinya.

KH Quraish Shihab merujuk pada kisah sahabat Nabi, yang mengubah redaksi adzan saat hujan lebat. Adzan tak lagi menyuruh muslim menuju masjid, namun diubah menjadi sholat di rumah masing-masing. Hal serupa terjadi pada mereka yang mengkonsumsi makanan berbau tajam, sehingga tidak boleh mendekati masjid.

"Jika mereka yang punya bau tak sedap saja dilarang mendekati masjid, apalagi yang mendatangkan mudharat bagi kesehatan. Itulah pandangan agama," kata KH Quraish Shihab.

KH Quraish mengingatkan, agama Islam sesungguhnya hadir dengan lima tujuan. Yaitu untuk memelihara agama itu sendiri, jiwa, akan, harta benda, dan keturunan. Semua yang mengantar pada pemeliharaan hal tersebut merupakan anjuran bahkan kewajiban. Sebaliknya, segala yang menghambat dan mengabaikan tujuan tersebut maka dilarang dalam agama dengan berbagai tingkat larangan.

(row/erd)