Masa Darurat Sampai 29 Mei, Pemerintah Perlu Terobosan Konkret

Tim - detikNews
Selasa, 17 Mar 2020 19:49 WIB
Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Trasnmigrasi Marwan Jafar mengikuti rapat kerja dengan Komisi II DPR RI di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (6/2/2015). Rapat tersebut membahas anggaran PDT dan Transmigrasi tahun2015 dan program-program kerjanya.
Marwan Jafar/Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Pemerintah menetapkan masa darurat corona sampai 29 Mei. Perlu terobosan-terobosan strategis selama masa darurat bencana corona berlangsung.

"Karena masih bussiness as usual, belum ada terobosan nendang, perlu langkah-langkah yang konkret," kata anggota DPR dari FPKB, Marwan Jafar, kepada wartawan, Selasa (17/3/2020).

Pemerintah, menurut Marwan, harus mengambil langkah penyelamatan dalam dua sektor sekaligus. "Menggabungkan mahzab ekonomi dan mahzab keselamatan," kata Marwan.

Kegotongroyongan nasional harus terus digelorakan. Protokol yang telah dicetuskan termasuk arahan social distancing juga harus diterapkan dalam kerangka menjaga keselamatan.

"Perlu diadakan perluasan test supaya banyak diketahui yang terpapar, karena korbannya terus bertambah," kata Marwan.

Ia juga mendorong pemerintah mengambil langkah-langkah penyelamatan ekonomi. Mulai dari menghidupkan kembali program jaring pengaman sosial/JPS, KUR dipermudah, dana desa untuk menggerakkan ekonomi desa.

"Tidak hanya program cash for wark, Bumdes, tapi juga memperluas program UMKM bekerjasama dengan kementerian/ lembaga yang lain, termasuk sektor swasta diberdayakan, merevisi programprogram yang tidak penting dialihkan ke program-program produktif yang bisa punya dampak ekonomi, memangkas perjalanan dinas yang tidak perlu, kita harus mengencangkan ikat pinggang, karena industri-industri kita sudah mulai loyo, seperrti pariwisata, hotel, restoran, penerbangan, dll," kata eks Menteri Desa dan PDT ini.

Ia juga mendorong BUMN yang masih dipercaya masyarakat sebagai penggerak ekonomi nasional, masih bisa menggerakkan perputaran barang dan jasa. Disamping itu BUMN juga juga punya fungsi CSR, punya hotel-hotel yang bisa disulap menjadi RS isolasi darurat pasien corona.

"BUMN juga punya Rumah Sakit yang tersebar dimana-mana juga bisa difungsikan sebagai RS rujukan . Itu fungsi sosial BUMN. Jadi bisa menggabungkan mahhab ekonomi dan mahzab keselamatan karena mempunyai dua fungsi, ekonomi dan sosial. BUMN bisa menjadi jembatan untuk menggerakkan ekonomi ditengah wajah suram ekonomi global dan wajah sedikit kurang cerah ekonomi nasional," katanya.

"BUMN diisi orang-orang profesional, terdidik dan punya pengalaman, disamping BUMN juga punya fasilitas yang memadahi, oleh karena itu bisa dimaksimalkan fungsinya sebagai jembatan national emergency akibat Covid 19," sambungnya.

Ia juga mendorong pemerintah mengantisipasi pergerakan rupiah yang terus merosot dan IHSG yang juga menurun, termasuk juga inflasi harus bisa diantisipasi.

"Tim ekonomi harus cermat, tanggap dan bertindak cepat, punya terobosan yang nendang dan spektakuler. Kita harus siap siaga untuk menghadapi kejadian yang tidak terduga atau black swans , baik dari sisi kesehatan, ekonomi, sosial, lingkungan dan psikologi. Kita juga harus mengantisipasi gejolak ekonomi yang bisa melumpuhkan daya beli masyarakat, dan pemerintah harus juga bisa merelaksasi ekonomi lewat penurunan suku bunga, termasuk mengintervensi sektor perindustrian supaya sehat lewat berbagai policy produktif, termasuk stimulus fiskal dan non fiskal yang telah dicanangkan," pungkasnya.

(fjp/van)