Majelis Mujahidin Khawatirkan Sidik Jari Dijual ke Asing
Rabu, 07 Des 2005 19:48 WIB
Yogyakarta - Pengambilan sidik jari terhadap santri pondok pesantren menimbulkan kekhwatirkan akan disalahgunakan beberapa pihak. Salah satunya sidik jari tersebut akan dijual pada pihak asing. "Siapa yang bakal menjamin sidik jari itu tidak akan disalahgunakan. Bisa saja para lulusan pesantren akan kesulitan melakukan perjalanan ke luar negeri baik untuk sekolah atau keperluan bisnis," kata Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)Irfan S. Awwas ketika dihubungi detikcom, Rabu (7/12/2005).Menurut Irfan gagasan itu merupakan penghinaan terhadap lembaga pesantren dan Umat Islam secara umum. "Ini kan sama saja sebagai upaya untuk memperkuat alasan bahwa santri dan pesantren itu identik dengan terorisme. Itu tidak benar dan harus ditolak," cetusnya. Irfan justru mengkhawatirkan pengambilan sidik jari terhadap para santri akan disalahgunakan olehpihak-pihak lain, misalnya dijual kepada pihak asing atau intelijen asing. Bila dijual kepada pihak asing, hal ini jelas sangat membahayakan karena Indonesia sudah tidak punya kedaulatan lagi.Menurut dia, pemerintah harus bersikap fair dan adil. Pengambilan sidik jari tidak hanya dilakukan terhadap santri saja tetapi juga harus dilakukan oleh masyarakat yang lain. Para pendeta dan siswa di sekolah-sekolah seminari maupun yang lain juga harus diambil sidik jarinya. Sebab kekerasan di wilayah lain seperti yang terjadi Ambon dan Poso dilakukan oleh orang lain yang bukan Islam."Pesantren itu juga merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sudah lama ada, sehingga kalau kemudian ada upaya seperti itu jelas mendiskreditkan pesantren. Tidak bisa lembaga pesantren saja tapi juga lembaga lain," ujar Irfan.Irfan menegaskan bila pengambilan sidik jari itu dengan alasan untuk menangkal terorirsme, itu alasan yang mengada-ada. Pemerintah tidak bisa serta-merta pukul rata umat Islam, santri dan pesantren itu identik dengan terorisme. Sebab terorisme itu bisa dilakukan oleh semua orang."Jadi apakah setelah santri diambil sidik jarinya, kasus terorisme akan berhenti. Ini lucu sekali alasannya," tandas Irfan.
(mly/)











































