Soal Sidik Jari Santri, Perlu Komunikasi yang Baik
Rabu, 07 Des 2005 15:40 WIB
Jakarta - Rencana aparat kepolisian mengambil sidik jari santri dan alumni pondok pesantren mendapat tentangan dari berbagai pihak. Rencana itu pun semestinya dikomunikasikan dengan bahasa yang baik."Sebagai orang pesantren tentu saya juga akan menolak, karena itu perlu dijelaskan, dikomunikasikan dengan bahasa yang baik," kata Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, di sela seminar tentang terorisme di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (7/12/2005). Dikatakannya, pengambilan sidik jari itu mungkin baik untuk mendeteksi para alumni. Namun jangan sampai hal itu menimbulkan solidaritas negatif dari pesantren lain, karena jumlah pesantren ribuan.Meski demikian, lanjut dia, semua pihak perlu mendukung upaya pemerintah dan aparat keamanan mengejar para pelaku tindak terorisme. "Pengejaran terhadap pelaku terorisme hingga akar-akarnya harus kita dukung. Itu intinya," kata Komaruddin Hidayat.Dia juga menambahkan, yang terpenting dalam pemberantasan terorisme yaitu pelibatan tokoh agama. "Tidak mungkin melawan teroris tanpa melibatkan tokoh agama, selama ini top down. Padahal ulama juga mempunyai harga diri dan otoritasnya tinggi. Kalau ulama didekati dan diminta bantuannya, mereka pasti senang," tukasnya.
(san/)











































