Sidik Jari Santri, Kalla Soroti Sikap Sensitif Tanpa Alasan
Rabu, 07 Des 2005 13:20 WIB
Jakarta -
Pengambilan sidik jari di kalangan pesantren masih menuai pro dan kontra. Wapres Jusuf Kalla pun menyoroti sikap sensitif tanpa alasan, seraya menekankan pentingnya positif thinking."Masyarakat Indonesia bisa menjadi sangat sensitif tanpa alasan, seperti pengambilan sidik jari. Untuk hal itu, jika seseorang hilang bisa dilacak dengan sidik jari," ucap Kalla.Hal ini disampaikan dia dalam sambutannya pada acara seminar internasional "Radikalisme Islam, Keamanan dan Ekonomi" di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (7/12/2005).Menurut Kalla, radikalisme dan jihad bila diterapkan secara benar, maka hasilnya akan baik. Namun bila diterapkan secara tidak benar, maka bisa menimbulkan kerugian terhadap orang lain."Contohnya jihad baik bila dilakukan di zaman perang, bukan zaman damai seperti di Indonesia," ujarnya.Mengenai pemberantasan teroris, Kalla meminta tanggung jawab itu diemban bersama, bukan hanya tanggung jawab polisi.Soal dampak terorisme, menurutnya, bukan hanya terjadi di satu wilayah, namun di seluruh wilayah."Seperti waktu bom Bali, daerah lain seperti Pekalongan dan Yogya juga kena dampaknya. Hal ini dikarenakan dua daerah tersebut merupakan pemasok kerajinan di Bali," tutur Kalla.Menag Maftuh Basyuni dalam sambutannya mengatakan, adanya terorisme menyebabkan pemulihan ekonomi dan keamanan di Indonesia menjadi terhambat."Namun Depag telah mengambil tindakan dengan membentuk tim penanggulangan terorisme, yang fokus pada kurikulum sekolah dan pesantren. Tujuannya untuk mencegah adanya pemahaman jihad yang salah," papar Maftuh.
(sss/)










































