Permintaan Tinggi, Petani Sukses Ekspor Teh ke Korea

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 12 Mar 2020 22:05 WIB
Kementan
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Minuman teh memang mempunyai penggemarnya sendiri yang sangat banyak di seluruh dunia. Hal inilah yang dilihat oleh Ipah, pendiri Arafa Tea yang berhasil mengembangkan usaha tehnya hingga mampu ekspor sampai ke Korea.

"Alhamdulillah dari tahun 2014 kita sudah ekspor ke Korea Selatan kurang lebih 1 kontainer untuk pengiriman 2 kali dalam setahun," kata Ipah dalam keterangan tertulis, Kamis (12/3/2020).

Ipah mengatakan, bisnisnya semakin berkembang pesat setelah banyak permintaan ekspor untuk produk teh hitam, teh oolong, teh hijau dan teh putih. Belakangan, kata Ipah, bisnisnya tengah mengembangkan teh Krosok khas Yogyakarta untuk pasar lokal.

"Saya tertarik dengan bisnis teh itu karena punya keinginan besar agar para petani menjadi entrepreneur. Jadi mereka bukan saja jadi petani, melainkan harus memiliki usaha tani," ujarnya.

Selanjutnya, Ipah mengaku saat ini sedang mengembangkan minuman teh yang dipadukan dengan rempah dari wilayah Indonesia Timur. Menurutnya, produk teh rempah memiliki minat di kalangan masyarakat Asia timur, terutama dari negara Qatar.

"Produk teh rempah sangat laku di negara Qatar. Kami selalu siap jika mereka membutuhkan dengan jumlah yang banyak," paparnya.

Untuk diketahui, Ipah dan kelompoknya berhasil membina para petani dari berbagai Gapoktan di wilayah Sukabumi, Cianjur, Cianjur Selatan, Cidaun, Bandung Barat, Pangheotan, Pasir Jambu, Garut dan Pangalengan.

"Terus terang saya harus berterima kasih kepada Kementerian Pertanian karena mereka banyak bantu. Termasuk dalam membesarkan bisnis petani dengan eksibisi dan pembukaan market bagi nilai jual teh. Kemudian kita bisa melibatkan banyak anak-anak mudanya berkat program petani milenial," ungkapnya.

Dirinya merasa kini anak milenial di kampungnya bisa berkembang tidak hanya soal produksi, tapi juga belajar pemasaran produk. Selain itu buruh tani juga kini dapat menikmati hasil upah kerjanya yang lumayan.

"Alhamdulilah buruh tani juga lebih sejahtera karena mereka mendapat upah yang lumayan. Petaninya punya lahan dan tanaman, buruhnya dapat manfaat yang besar juga dari korporasi petani yang kami bangun," tutupnya.

Di Indonesia juga ada sekelompok petani yang berhasil mengembangkan traceability product dan IT sistem untuk produk makanan rice cracker dan macca. Kedua produk olahan itu dibuat dari tepung powder yang berbahan baku tea. Selain itu, mereka juga mampu menciptakan inovasi wae tea yang tidak menggunakan mesin.

(prf/ega)