Rendah Empati, Ical Tidak Cocok Menjadi Menko Kesra

Rendah Empati, Ical Tidak Cocok Menjadi Menko Kesra

- detikNews
Rabu, 07 Des 2005 07:06 WIB
Jakarta - Empati. Itulah yang dibutuhkan seorang Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Aburizal Bakrie, dinilai tidak cocok menempati posisi ini. Dilahirkan dari keluarga kaya, dengan ucapan-ucapannya dan ekonomi yang dia bangun tidak berempati kepada rakyat kecil, Aburizal sulit dapat berhasil di posisi yang seharusnya pro rakyat kecil."Seberapa jauh seorang Ical (Aburizal Bakrie) mempunyai empati kepada rakyat. Padahal selama ini ucapan-ucapan Ical banyak yang tidak berempati kepada rakyat kecil. Apa mungkin orang seperti ini ada di posisi Menko Kesra," kata pengamat Komunikasi Politik UI Effendy Gazali ketika dihubungi detikcom, Selasa (6/12/2005).Menurut Effendy, Ical bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla sering disebut Rival Performer, yaitu kelompok orang yang bekerja untuk pencapaian dengan sesuatu yang bisa terukur. Kelompok ini tidak banyak memperhatikan perasaan rakyat, melainkan tujuan lebih penting daripada proses."Miisalnya bantuan langsung tunai (BLT). Ada aset Rp 300 ribu per orang selama 3 bulan. Rival Performer menggunakan rasionalitas seperti ini. Tapi ada logika lainnya. Pendanaan yang bergulir bisa lebih dalam proses untuk bekerja dan berkarya. Jangan hanya dikasih uang," jelasnya.Dia juga menilai, karena Ical tidak sukses di Menko Perekonomian, maka akan lebih sulit lagi Ical bakal sukses di Menko Kesra. Namun ada hal yang dapat menolong Ical, yakni di pos menko Kesra, tidak begitu mudah bagi sejumlah orang untuk mendapatkan ukuran keberhasilan atau kegagalannya."Kalau di Menko Perekonomian, keberhasilan dapat jelas diukur dari reaksi pasar, inflasi, dan sebagainya. Sedangkan di Menko Kesra, hanya ada orang-orang yang mengkritisi dengan tidak berdaya secara power, misalnya LSM atau pengamat," tandas Effendy.Perombakan kabinet ini, lanjut Effendy, tidak begitu banyak berpengaruh bagi kemajuan atau kekompakkan pembantu Presiden SBY. "Karena reshuffle terbatas, maka dampaknya akan terbatas juga, manfaatnya hanya terbatas saja," imbuhnya.Seharusnya, menurut Effendy, Presiden SBY menjelaskan kriteria apa yang digunakannya dalam menjalankan proses reshuffle. Hingga saat ini masyarakat tidak pernah tahu mengapa seorang menteri di-reshuffle atau digeser ke posisi lain. "Kita tidak pernah tahu atau diberitahukan dari presiden apa target-target pencapaian yang gagal dilakukan seorang menteri. Publik semestinya tahu," ujarnya. (atq/)


Berita Terkait