Ketua MPR Dorong Pertumbuhan Industri Film Nasional

Yudistira Imandiar - detikNews
Rabu, 11 Mar 2020 22:20 WIB
Bamsoet
Foto: Bamsoet. Tia Agnes/detikHOT
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menggandeng Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail untuk menyelenggarakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI pada 30 Maret mendatang. Kolaborasi tersebut merupakan langkah taktis MPR RI untuk lebih dekat dengan para penggiat industri perfilman.

Acara yang dijadwalkan berlangsung di Komplek Usmar Ismail Hall Jakarta itu diadakan bertepatan dengan peringatan Hari Film Nasional. Selain mengadakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Bamsoet juga akan meresmikan pembangunan monumen Hari Film Nasional dan memberikan penghargaan Legend Award kepada sineas yang berjasa dalam memajukan perfilman Indonesia.

Bamsoet mengatakan, film merupakan salah satu medium untuk memperkenalkan identitas sebuah negara. Di Indonesia, sebut Bambang, ada beberapa film yang menumbuhkembangkan nasionalisme masyarakat, di antaranya film Sang Kyai, Sang Pencerah, 3 Srikandi, atau Garuda di Dadaku.

"Kerja sama MPR RI dengan Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail akan semakin menstimulus lahirnya film-film yang menggugah kesadaran publik untuk lebih mencintai Indonesia," kata Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (11/3/2020).

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini berpesan, untuk mengimbangi tingginya minat masyarakat menonton film hasil karya anak bangsa, kualitas film juga perlu semakin ditingkatkan. Dukungan dari pemerintah maupun stimulus dari berbagai stakeholder berperan dalam memacu kualitas film lokal.

"Di tahun 2018 dan 2019, jumlah penonton film Indonesia selalu menembus di atas angka 50 juta penonton. Pertumbuhan layar bioskop juga selalu meningkat. Dari 1.600 layar pada 2017, menjadi 2.000 layar pada 2018, dan naik sedikit menjadi 2.060 hingga triwulan 2020. Tingginya antusiasme penonton terhadap film Indonesia harus dibarengi dengan peningkatan kualitas film. Sehingga, akan menarik banyaknya penonton dan akan menggeliatkan industri perfilman," papar Bamsoet.

Lebih lanjut, Bamsoet mengapresiasi langkah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika yang telah menutup sekitar seribu situs website streaming ilegal yang menampilkan film Indonesia. Selain merugikan sineas dan pertumbuhan industri perfilman, keberadaan situs ilegal tersebut juga merugikan negara karena bisa memangkas pendapatan melalui pajak.

"Walaupun pertumbuhan penonton bioskop sudah tinggi, bukan berarti kita bisa berpuas diri. Apalagi sekitar 63 persen masyarakat masih banyak yang mengakses situs web streaming illegal untuk menonton film. Menutup situs tersebut selain menjamin keberlangsungan industri perfilman Tanah Air, sekaligus penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual," tegas Bamsoet.

Sejumlah pengurus Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, antara lain Sonny Pudjisasono, Aklis Suryapati, Wina Armanda Sukardi, Oktaf Chaniago, Berbie Komala Sari, Anna Tarigan, Asrie dan Alicia Johar hadir dalam pertemuan dengan Bamsoet di Senayan, Jakarta.

(prf/ega)