Sejarah Supersemar: Kontroversi dan Yayasan

Rosmha Widiyani - detikNews
Rabu, 11 Mar 2020 15:57 WIB
Mantan Presiden Indonesia Soeharto.
Foto: Istimewa/Getty Images/Sejarah Supersemar: Kontroversi dan Yayasan
Jakarta -

Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret menjadi peristiwa penting yang diingat seluruh bangsa Indonesia, tiap 11 Maret 2020. Peristiwa Supersemar menandai sejarah baru bangsa Indonesia selepas era Presiden Sukarno.

Terlepas dari kontroversi, tidak ada yang menyanggah pentingnya Supersemar bagi Indonesia. Di kemudian hari Presiden Soeharto membentuk Yayasan Supersemar yang berperan dalam dunia pendidikan tinggi melalui beasiswa.

Berikut sejarah, kontroversi, dan beasiswa Supersemar

a. Sejarah Supersemar

Dalam berbagai buku sejarah dikatakan, Presiden Sukarno memberi perintah pada Mayor Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Saat itu situasi Indonesia belum stabil usai peristiwa G30S PKI yang terjadi pada 1965.

Dengan Supersemar inilah, mantan Presiden Soeharto melakukan gerak cepat di Indonesia. Selanjutnya PKI dibubarkan dan orang-orang yang terlibat ditangkap pemerintah. Supersemar mengubah peta politik dan perjalanan bangsa Indonesia

b. Isi Supersemar

Supersemar berisi perintah mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk mengembalikan situasi di Indonesia. Ada tiga poin penting dalam Supersemar yaitu:

1. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan, serta kestabilan djalannja pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi.

2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan Lain dengan sebaik-baiknja.

3. Supaja melaporkan segala sesuatu jang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung-djawabnja seperti tersebut diatas.

c. Kontroversi Supersemar

Kontroversi Supersemar sebetulnya tak hanya isi namun juga keaslian dokumen. Naskah Supersemar yang disimpan lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) ternyata bukan dokumen asli. Ketiganya adalah salinan sedangkan dokumen asli tidak diketahui keberadaanya.

Selain keaslian dokumen, isi Supersemar hingga kini masih menimbulkan kontroversi. Seperti ditulis detikX, Presiden Sukarno sempat mengingatkan Mayjen Soeharto yang kemudian jadi Presiden ke-2 Indonesia, bahwa Supersemar adalah surat perintah bukan penyerahan kekuasaan. Setiap langkah harus dikonsultasikan dengan Presiden Sukarno, termasuk pembubaran PKI yang membuat proklamator tersebut naik pitam.

Dalam tulisan tersebut, Presiden Soekarno mengingatkan Soeharto lewat Surat Perintah 13 Maret 1966. Sayangnya jejak Supersemar dan Surat Perintah 13 Maret 1966 yang asli tidak diketahui dan tetap menjadi kontroversi hingga kini.

d. Yayasan Supersemar

Dalam arsip berita detikcom dikatakan, Yayasan Supersemar dibentuk mantan Presiden Soeharto pada 16 Mei 1974. Yayasan Supersemar berperan besar dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia melalui beasiswa. Hingga kini program beasiswa Supersemar terus berlangsung dan mencetak lulusan perguruan tinggi.

Sayangnya pengelolaan Yayasan Supersemar bermasalah. Diduga ada penyelewengan aset yang berakhir dengan kekalahan Yayasan Supersemar di pengadilan. Pemerintah kemudian menyita aset tersebut yang dieksekusi Kejaksaan Agung.

Keberadaan yayasan yang memberikan beasiswa bagi mahasiswa hingga saat ini masih sangat diperlukan. "Saya mendambakan kita punya Yayasan Supersemar seperti itu. Ingin ada yayasan beasiswa yang seperti Supersemar dulu. Nanti kita lihatlah perkembangannya," kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md.

Simak Juga Video "Mahfud Md Inginkan Ada Yayasan Beasiswa Seperti Supersemar"

[Gambas:Video 20detik]

(row/erd)