Lebih 3 Ribu Pekerja Cor Logam Klaten Menganggur
Selasa, 06 Des 2005 21:07 WIB
Klaten - Lebih dari tiga ribu pekerja di sentra industri cor logam di Ceper, Batur, Klaten, terpaksa menganggur. Hal ini diakibatkan kenaikan BBM dan penerapan tarif Daya Max Plus oleh PLN yang membuat 75 persen usaha milik perajin kolaps. Hal ini diperparah dengan turunnya pesanan yang masuk setiap harinya."Dari 325 anggota koperasi, hanya sekitar 25 persen saja yang masih bertahan produksi. Sisanya memilih menunggu kondisi membaik. Jika memaksa beroperasi justru merugi. Pesanan yang masuk juga terus berkurang sehingga tidak bisa semua anggota mendapat jatah produksi," ujar Afan Susanto, Manajer Koperasi 'BaturJaya' Ceper, Selasa (6/11/2005).Terpuruknya sentra industri cor logam Batur ini mulai dirasakan akibat sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak menguntungkan industri kecil. Apalagi setelah kenaikan harga BBM terakhir yang angkanya sangat tinggi, ditambah penerapan tarif Daya Max Plus oleh PLN. Kondisi itu diperparah lagi dengan tarif baru UMK yang akan segera diberlakukan.Belum lagi faktor sepinya pesanan. Saat ini pesanan rutin tiap bulan yang masuk ke koperasi 'Batur Jaya' hanya dari PT KAI berupa 12.000 buah blok rem. Akibatnya tidak bisa memberi garapan kepada semua perajin. Untuk kompensasinya, pengrajin yang tidak kebagian pekerjaan akan mendapatkan fee sekadarnya dari yang mendapat garapan."Saat ini Lebih dari 3.000 pekerja terpaksa menganggur. Tenaga kerja yang terserap hanya 50 persen dari jumlah awal 6.000 orang. Itu pun dengan penghasilan yang tidak seberapa karena hanya 25 persen yang mampu beroperasi. Tapi bagaimanapun terpaksa harus dijalani," kata Afan.Untuk itu, lanjutnya, pemerintah harus campur tangan dengan kebijakan-kebijakan yang bisa membantu kalangan pengrajin. Kondisi yang terpenting saat ini adalah mendapat pesanan dan bisa menutup biaya operasional meskipun dengan margin keuntungan yang sangat terbatas. "Harus ada stimulus dan keringanan bagi pengrajin," tegas Afan.DiversifikasiSejumlah perajin cor logam Batur saat ini mencoba bertahan dengan diversifikasi usaha. Mereka tidak menolak pesanan dalam bentuk apa pun. Bahkan tidak jarang mereka mencari order dengan model jemput bola."Pesanan apa pun kami terima saat ini. Pesanan kursi hias hingga tiang lampu kita kerjakan. Padahal biasanya garapan utama kami adalah onderdil mesin, pompa air dan sambungan pipa milik PDAM. Hasilnya lumayan karena tiap bulan dapat pekerjaan, meskipun tidak seberapa yang penting bisa bertahan," ujar Sumanto, salah seorang pengrajin cor logam di Batur.
(atq/)











































