BRR Akui Nias Lambat Pulih

BRR Akui Nias Lambat Pulih

- detikNews
Selasa, 06 Des 2005 18:54 WIB
Jakarta - Terbentur masalah transportasi dan distribusi logistik, pembangunan wilayah di Pulau Nias berjalan sangat lambat. Nias pun lambat pulih pascahantaman gelombang tsunami.Kondisi ini diakui Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR), seperti disampaikan Ketua BRR Koentoro Mangkoesoebroto dan Kepala Perwakilan BRR Nias William Sabandar di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa (6/12/2005) dalam jumpa pers acara "1st Nias Island Stakeholder Meeting"."Kita melaksanakan acara ini karena melihat kecepatan pembangunan di Nias sangat lambat," jelas Koentoro yang didampingi oleh UN Recovery Coordinator for Aceh and Nias Erick Morris dan Country Director World Bank Andrew Steer.Acara ini akan dihadiri oleh sejumlah NGO, stakeholder dan perwakilan Bank Dunia, serta perwakilan dari Bank Pembangunan Asia.Lebih lanjut Koentoro menjelaskan, keterlambatan pembangunan di Nias disebabkan beberapa faktor. Antara lain masalah transportasi logistik yang sangat sulit dan kecelakaan yang menimpa manajer proyek.Dalam pertemuan ini, para pendonor dan sejumlah NGO telah berkomitmen untuk melakukan percepatan pembangunan kembali Pulau Nias. Percepatan ini sangat penting karena hampir 90 persen rumah dan gedung sekolah, serta berbagai infrastruktur lainnya hancur akibat gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu.Sementara menurut William Sabandar, kesulitan percepatan pembangunan di Nias karena sulitnya pendistribusian bahan baku untuk bangunan. Ia mencontohkan, untuk rekonstruksi dan rehabilitasi di Nias dibutuhkan 20.000 meter kubik kayu dari luar Pulau Nias. Namun hal itu sangat sulit dilakukan."Bila sistem transportasi normal pun, jika diangkut dengan menggunakan 20 truk per hari, maka akan butuh waktu tujuh tahun," ujar William.Hingga kini perkembangan pembangunan di Nias baru mencapai 200 unit rumah. Padahal sekitar 13.000 rumah hancur total dan 30.000 lainnya mengalami rusak berat, ringan, dan sedang. Begitu juga dengan gedung sekolah yang rusak berjumlah 723 unit."Dengan pertemuan ini, kita akan meminta komitmen dari para stakeholder dan NGO untuk segera membangunnya," tandas William. (bal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads