300 Imigran Gelap di RI Dikhawatirkan Terkait Teroris
Selasa, 06 Des 2005 15:26 WIB
Denpasar - Imigran gelap di Indonesia saat ini berjumlah 300 orang. Mereka berasal dari Timur Tengah, di antaranya negara Iran, Irak dan Afganistan. Dikhawatirkan para imigran gelap ini terkait jaringan teroris internasional. Demikian disampaikan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin ketika membukan acara pertemuan Dirjen-dirjen Imigrasi Asia-Eropa (ASEM) ke-4 di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Selasa (6/12/2005). Pertemuan ini diikuti 39 negara dari Asia dan Eropa. "Jaringan kriminal antarnegara tidak hanya meliputi penyelundupan perempuan dan anak, pemalsuan dokumen, pencucian uang, penyelundupan narkotika, tapi yang lebih buruk mereka bisa terlibat dalam jaringan teroris international," katanya. Sebelumnya, jumlah imigran gelap yang ada di Indonesia berjumlah 4.000 orang. Mereka berhasil dikembalikan ke negara asalnya setelah melalui kerjasama internasional pemulangan imigran. Para imigran gelap yang ada di Indonesia umumnya adalah pengungsi yang ada dalam pengawasan UNHCR. Tetapi para pengungsi tersebut sudah tidak layak dikategorikan sebagai pengungsi dan masih berada di suatu negara. Sementara itu, Dirjen Imigrasi Departemen Hukum dan HAM Imam Santoso mengatakan, pertemuan ASEM ini akan membahas beberapa isu, antara lain pertukaran informasi keimigrasian, prosedur pengembalian imigran, kerjasama manajemen imigrasi, kerjasama dalam memperkuat manajemen kontrol perbatasan. Dalam kerjasama manajemen kontrol perbatasan, kata Santoso, akan dibahas masalah penggunaan paspor elektronik. Rencana ini telah dibahas mulai tahun 2005 dan pada tahun 2010 seluruh negara di dunia telah menggunakan paspor elektronik. Dalam paspor tersebut, akan terdapat foto wajah, sidik kaki, dan retina mata. Pertemuan ini diikuti oleh berbagai negara d Eropa dan Asia, misalnya Jerman, Inggris, Prancis, Belanda, Italia, Finlandia, Korea, Jepang, Malaysia, dan Thailand. Kesepakatan pertemuan ini akan dituangkan dalam Chair's Statement, Rabu (7/12/2005).
(nrl/)











































