Medan Panas Terik, BMKG Beri Penjelasan

Haris Fadhil - detikNews
Senin, 09 Mar 2020 14:07 WIB
Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Foto: Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Medan -

Cuaca di Medan terasa panas terik beberapa hari terakhir dan dikeluhkan oleh sebagian warga. BMKG pun memberi penjelasan soal penyebab cuaca panas yang terjadi di Ibu Kota Sumatera Utara (Sumut) ini.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I-Medan, Edison Kurniawan, mengatakan cuaca panas ini dipicu posisi wilayah Sumut yang dekat dengan garis khatulistiwa. Menurutnya, cuaca panas ini dipicu oleh posisi matahari saat ini.

"Untuk wilayah Sumatera Utara sendiri kondisi iklimnya berbeda. Dia pola hujannya pola hujan ekuatorial namanya. Karena memang posisinya dekat dengan garis ekuator bumi maka puncak hujan itu terjadi antara bulan April dan juga Oktober. Di mana bulan Maret dan September itu matahari persis di ekuator. Pada umumnya pada saat matahari berada di ekuator itu energinya diserap sangat kuat oleh permukaan laut," kata Edison, Senin (9/3/2020).

Dia mengatakan panas matahari yang diserap laut itu butuh waktu lama untuk pelepasannya. Setidaknya, menurut Edison, butuh waktu hingga tiga minggu sebelum panas matahari yang diserap laut dilepas menjadi hujan.

"Energi yang terserap ini disebut dengan panas laten, itu butuh waktu bisa dua hingga tiga minggu. Sifat laut ini, panas yang diserap laut ini lama menyerap panas, dia lama juga melepaskan panasnya. Beda dengan daratan, biasanya seperti itu. Pada Maret itu panas yang dipancarkan sinar matahari ke bumi, namun beberapa minggu kemudian panas dilepaskan dalam awan-awan hujan, biasanya seperti itu," tuturnya.

Edison menilai kondisi panas yang terjadi masih normal. Dia juga mengingatkan agar warga di wilayah yang berbatasan dengan Riau waspada terhadap titik panas yang mulai muncul di Riau.

"Secara umum di bulan Maret ini sebagian besar wilayah Sumatera Utara memang ada kecenderungan memasuki musim kemarau. Beberapa daerah memang curah hujannya sedikit menurun, tapi kondisi ini masih cukup normal," tutur Edison.

"Terhambatnya penguapan, pembentukan awan itu sedikit mengalami penurunan itu diikuti dengan suhu udara yang cukup tinggi. Tapi pertumbuhan awan tersebut menurut saya masih normal karena nggak mengganggu secara umum masyarakat. Namun, di wilayah yang berbatasan dengan Riau, Padang Lawas Utara, Labuhanbatu Selatan dan Labuhanbatu mohon terus waspadai karena dekat dengan Riau yang notabene saat ini terdapat hotspot. Namun di wilayah Sumut masih terpantau aman," sambungnya.

Simak Juga Video "Cuaca Ekstrem 'Hantui' DKI, Kadis SDA: Kita Siaga 24 Jam"

[Gambas:Video 20detik]

(haf/jbr)