Pengamat: SBY Akomodasi Golkar dan Rangkul PKB
Selasa, 06 Des 2005 09:14 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerapkan politik akomodatif dalam perombakan (reshuffle) kabinet secara terbatas. SBY mengakomodasi Golkar dengan memberi tambahan satu kursi menteri, serta merangkul PKB Muhaimin Iskandar.Penilaian ini disampaikan pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf mengomentari masuknya Paskah Suzetta dari Golkar dan Erman Suparno dari PKB sebagai anggota baru di Kabinet Indonesia Bersatu."Jadi, Golkar nambah satu kursi. Presiden juga ingin merangkul PKB. Kalau ini dianggap penting, silakan saja. Yang penting kinerjanya nanti," kata Maswadi yang saat dihubungi detikcom melalui telepon seluler sedang berada di Riau, Selasa (6/12/2005) pagi.Keputusan SBY dalam menentukan reshuffle kabinet ini, lanjut Maswadi, sah-sah saja. Ini merupakan strategi dari pemimpin politik untuk memperkuat basis dukungan. "Yang penting menteri yang diangkat memiliki kapabilitas sehingga kinerjanya bagus."Dijelaskan Maswadi, dalam sistem presidensial kekuasaan presiden dalam membentuk kabinet adalah mutlak. Karena itu dibutuhkan keterampilan untuk memilih para pembantunya secara tepat. "Kalau terlalu dipengaruhi orang lain, yang rugi presiden," katanya.Ketika ditanya soal penegasan Presiden SBY bahwa tidak ada tekanan dari parpol dalam reshuffle kabinet, Maswadi tidak melihat adanya ketidaksinkronan dalam pernyataan tersebut. Sebab bisa saja parpol memberi masukan, tapi keputusan terakhir tetap berada di presiden."Kita harus melihat track record kedua menteri baru (dari parpol) itu. Hanya presiden yang tahu track recordnya. Yang dari PKB (Erman Suparno), belum banyak orang yang tahu. Mudah-mudahan presiden memilih berdasarkan kemampuan," harap Maswadi Rauf.
(gtp/)











































