Reshuffle Kabinet, Satu Profesional, Dua Orang Parpol

Reshuffle Kabinet, Satu Profesional, Dua Orang Parpol

- detikNews
Selasa, 06 Des 2005 08:16 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan tidak ada tekanan dari pihak manapun dalam reshuffle kabinet. Tapi, kok hanya Boediono yang berasal dari kalangan profesional, sedang dua menteri baru lainnya dari partai politik?Presiden SBY, dalam jumpa pers pengumuman reshuffle kabinet di Istana Negara Gedung Agung, Senin (5/12/2005) malam, membantah adanya tekanan terhadap dirinya terkait penyusunan nama-nama menteri yang digeser maupun nama-nama yang masuk menggantikannya.Tidak ada tekanan baik dari partai politik, orang per orang, maupun lembaga tertentu. Yang dimaksud lembaga tertentu itu tak lain adalah Dana Moneter International (IMF) atau International Monetary Fund (IMF).Tapi, selain fungsionaris DPP PKB, Erman dikenal telah bergaul lama dengan Jusuf Kalla maupun Aksa Mahmud di era 1970-an. Ketika itu dia menjabat Kepala Kanwil PT Pembangunan Perumahan di Sulawesi Selatan. Sebelum menjadi anggota DPR, Master jebolan Newport University, California AS itu adalah Dirut PT PP Taisei Indonesia Construction.Dalam biografi Politikus si Tukang Beton, Jusuf Kalla menggambarkan sosok Erman sebagai seorang profesional yang punya dasar pengetahuan dan pengalaman dalam pembangunan infrasturktur. "Dia menjadi sosok dan aset langka (bagi PKB," kata Jusuf. Terlepas adanya tekanan atau tidak, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar mengakui telah menyodorkan Erman Suparno kepada Presiden SBY untuk mengisi kabinet yang dirombak. Selain Erman, PKB juga menyodorkan nama Saifullah Yusuf.Hasilnya kemudian kita ketahui. Erman, Wakil Ketua Komisi V DPR dari FKB, ditunjuk SBY untuk mengisi pos Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi menggantikan Fahmi Idris yang berganti posisi menjadi Menteri Perindustrian. Sementara Saifullah Yusuf tetap bertahan di posnya sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal.Alwi Shihab? Politisi PKB yang berseteru dengan Muhaimin Iskandar ini dicopot dari posnya sebagai Menko Kesra, diganti Aburizal Bakrie yang meninggalkan posnya di Menko Perekonomian untuk memberi tempat ekonom yang kehadirannya di kabinet ditunggu-tunggu pasar, Boediono.Sementara itu Golkar, mendekati pengumuman reshuffle kabinet, sudah mewanti-wanti Presiden SBY agar tidak mendepak dua menteri dari Golkar, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie (Ical) dan Menakertrans Fahmi Idris. Katanya, jika sampai diganti akan ada persoalan baru. "Golkar hanya punya dua yakni Fahmi Idris dan Aburizal Bakrie. Yang ada jangan dikurangi. Bahkan bila terjadi reshuffle yang ada malah harus ditambah," kata Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono di sela-sela peringatan Hari Relawan Sedunia di Jakarta, Senin (5/12/2005). Ternyata, Ical dan Fahmi tidak diganti dan hanya berganti posisi. Golkar juga mendapatkan tambahan satu kursi menteri dengan ditunjuknya Paskah Suzetta sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas mengganti Sri Mulyani Indrawarti yang naik posisi menjadi Menteri Keuangan.Politisi Golkar ini sekarang menjabat Ketua Komisi XI yang membidangi keuangan. Ia juga pernah tercatat sebagai anggota Komisi IX (keuangan dan perencanaan pembangunan) pada periode 1999-2004. Paskah memang dikenal cukup lama bergelut di dunia bisnis dan perencanaan pembangunan.Peran Kalla dalam penyusunan kabinet dulu cukup besar. Dalam penetapan perombakan kabinet, patut diduga Kalla juga memegang peranan. Sebagai Wapres, Kalla yang juga Ketua umum DPP Partai Golkar itu diajak Presiden SBY untuk menggodok nama-nama baru yang yang bakal masuk dalam kabinet, atau nama-nama yang digeser.Presiden tidak menampik keterlibatan Wapres Jusuf Kalla dalam penggodokan reshuffle terbatas ini. Tapi, SBY memastikan bahwa Kalla dimintai pendapatnya secara proporsional. "Tapi keputusan tetap sepenuhnya di tangan saya sebagai pemegang hak prerogatif," tegas SBY. (gtp/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads