Kisah Ustaz Abdul Somad Kuliah di Mesir: Pernah Tanam Kangkung Dikira Narkoba

Rosmha Widiyani - detikNews
Jumat, 06 Mar 2020 19:16 WIB
Ustaz Abdul Somad
Foto: Instagram
Jakarta -

Ustaz Abdul Somad atau UAS, bersama teman-temannya semasa kuliah di Al-Azhar, Mesir, baru saja menulis buku berjudul A Note From Cairo. Buat yang pengen kuliah di luar negeri, buku setebal 260 halaman ini bisa menjadi inspirasi bagaimana hidup di luar negeri.

Buku yang diterbitkan Camel Books ini dibuka dengan kalimat persembahan dari Islah 98, yang merupakan nama kelompok angkatan kuliah Ustaz Abdul Somad dan teman-temannya. Selanjutnya, penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy menjelaskan kenapa memilih Al-Azhar sebagai tempat menuntut ilmu selanjutnya.

Alumnus Al-Azhar diharapkan bisa mengabdi lebih baik di masyarakat, seperti yang dilakukan UAS dan teman-temannya saat ini. Al-Azhar dengan kualitas yang tak diragukan lagi, menawarkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang berminat.

Tak semua orang bisa beruntung mendapat beasiswa dari universitas paling tua di dunia tersebut. Tak heran jika di awal tulisan, UAS mengungkapkan perasaan terkejut dan senang saat melihat namanya ada di daftar yang menerima beasiswa Al-Azhar tahun 1998.

Dengan harga dolar yang melonjak hingga terjadi krisis moneter, UAS nyaris gagal berangkat karena kesulitan beli tiket. Namun berkat dukungan ibu, UAS berangkat dari Jambi menuju Bandung hingga ikut karantina di Pondok Pesantren Hadiqatunnajah Jurangmangu, Bintaro Jaya.

Setelah sampai di Mesir, UAS dan Islah 98 segera berhadapan dengan proses adaptasi bahasa dan budaya. Termasuk saat warga Mesir memberi uang dan bahan makanan kepada mahasiswa Indonesia, entah karena dermawan atau terkait krisis ekonomi yang melanda negara. Sempat menolak, akhirnya pemberian tersebut diterima saja atau dibagikan lagi kepada yang lebih membutuhkan.

Terlepas dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia, mahasiswa tampaknya memang tak pernah lepas dari kesulitan keuangan. Seperti yang diceritakan dalam buku, UAS dan teman-temannya harus memutar otak demi bisa makan. Salah satunya nanem kangkung di lahan kosong dekat asrama Al-Azhar, yang sempat dikira tanaman narkoba. Mahasiswa jadi terpaksa berurusan dengan pihak keamanan untuk menjelaskan kangkung.

Sama seperti di perguruan tinggi lain, mahasiswa Al-Azhar berhadapan dengan musim ujian selama menempuh kuliah. Misal ujian dua termin, yang diadakan pada Bulai Mei untuk musim panas dan Desember saat musim dingin. Ujian bisa dilaksanakan hingga tiga jam dengan total kertas jawaban delapan lembar. Saking lamanya ujian, mahasiswa boleh membeli makan dan minum selama ujian.

Ujian di Al-Azhar, Mesir, tidak mengenal sistem susulan kecuali ada kebijakan dari kampus. Sakit atau alasan lain tidak bisa menjadi alasan menunda ujian dan melaksanakannya di hari lain. Aturan ujian di Al-Azhar lainnya adalah mahasiswa tidak boleh membawa tas masuk ruangan. Karena itu, jangan heran jika menemukan tas berserakan di lorong kampus saat musim ujian.

Beberapa bulan sebelumnya, mahasiswa dipastikan tidak akan lepas dari diktat berbahasa Arab. Diktat dan kamus kadang dibuka bersamaan sehingga lebih mudah mengerti serta mengingat pelajaran.

Dengan tantangan tersebut, UAS dan teman-temannya di Islah 98 akhirnya berhasil lulus pada 2002 dan kembali ke Indonesia. Selanjutnya UAS dan Islah 98 mengamalkan ilmu demi kehidupan masyarakat yang lebih baik. Saat menulis A Note From Cairo, UAS dan Islah 98 yang tersebar di seluruh Indonesia akhirnya sempat reuni.

Bagi yang sedang atau akan kuliah di luar negeri, buku ini mengajarkan tidak lekas menyerah menghadapi kesulitan. Namun di tengah kesulitan, tak ada salahnya sesekali tertawa dan tidak terlalu serius saat mengalami masalah. Serius dan sesekali tertawa bersama teman-teman memungkinkan hidup di perantauan terasa lebih menyenangkan, seperti yang dialami UAS dan teman-temannya kelompok Islah 98.

(/erd)