Pascatragedi 11 September, AS Masih Berisiko Terorisme

Pascatragedi 11 September, AS Masih Berisiko Terorisme

- detikNews
Senin, 05 Des 2005 16:19 WIB
Jakarta - Empat tahun lebih tragedi 11 September atau biasa disebut peristiwa 9/11 berlalu, namun Amerika Serikat masih berisiko tinggi mengalami serangan teroris berikutnya.Hal ini dikarenakan Kongres AS dan Gedung Putih gagal menerapkan beberapa langkah keamanan. Demikian disampaikan anggota-anggota komisi 11 September yang telah dibubarkan, seperti dilansir kantor berita Associated Press, Senin (5/12/2005)."Ini bukan prioritas untuk pemerintah sekarang ini," ujar mantan ketua komisi, Thomas Kean. "Lebih dari empat tahun setelah 9/11, masyarakat tidak memperhatikan. Semoga Tuhan menolong kita jika kita mengalami serangan lainnya," imbuhnya.Bahkan menurut eks anggota komisi 9/11 lainnya, Lee Hamilton, serangan teror pasti akan terjadi lagi di AS. "Kami yakin bahwa serangan lainnya akan terjadi. Ini bukan lagi masalah apakah serangan akan terjadi. Kita tidak cukup siap seperti yang seharusnya," tegasnya.Pada Juli 2004 lalu, Komisi 9/11 telah menyampaikan laporan akhir mengenai penyelidikan seputar serangan teroris 11 September 2001 yang menewaskan ribuan orang. Sejumlah rekomendasi disampaikan kepada pemerintah AS. Namun pemerintah AS dianggap belum bertindak dengan cepat."Kurang sense urgensi. Ada begitu banyak prioritas yang bersaing. Kita punya tiga perang yang masih berlangsung: satu di Afghanistan, satu di Irak, dan perang melawan teror. Sayangnya, susah membuat orang tetap fokus pada sesuatu seperti ini," kata Hamilton.Kongres AS membentuk komisi ini pada tahun 2002 guna menyelidiki kesalahan-kesalahan pemerintah yang mendorong terjadinya serangan 9/11. Dalam laporan setebal 567 halaman itu, Presiden George W Bush ataupun mantan Presiden AS Bill Clinton tidak disalahkan atas timbulnya peristiwa berdarah itu. Namun keduanya dianggap gagal menjadikan antiterorisme sebagai prioritas utama. (ita/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads