Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Selasa, 03 Mar 2020 21:00 WIB
Virus corona telah mewabah di China sejak Desember 2019 lalu. Hingga kini, tim medis terus berjuang untuk menangani pasien yang terjangkit virus corona.
Foto: AP Photo

"Kalau dokter yang menyebut identitas pasien, pasti akan melanggar etik kedokteran dan ada sanksinya. Kecuali untuk alasan khusus seperti diminta oleh pengadilan," ujar Syahrizal, Selasa (3/3/2020) pada wartawan.

Dalam kasus dua pasien di Depok, Syahrizal menyampaikan hal itu juga bukan merupakan hal yang pantas dilakukan oleh seorang pejabat publik. "Dia (Idris) harusnya memberi informasi terbatas saja. Kalau dinyatakan sebatas sampai Depok saja, tidak perlu sampai detail. Itu tidak pantas," katanya.

Identitas pasien, menurut Syahrizal yang juga pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia hanya untuk kepentingan penyelidikan internal saja. "Membuka identitas sama sekali tidak membantu proses pengendalian wabah dan justru mengganggu karena media berbondong-bondong ke sana," ujarnya.

Dan yang paling mengkhawatirkan, membuka data itu merupakan pelanggaran terhadap hak pribadi. Bagi pasien akan ada kerugian besar terutama soal stigmatisasi. Walaupun nanti pasien sudah dinyatakan sembuh total dari penyakitnya. "Ini sangat merugikan, terutama soal stigmatisasi," kata Syahrizal.

Karena itu, doktor lulusan University of Newcastle, Australia tersebut meminta semua pasien termasuk yang masih dalam pemantauan dan pengawasan turut dirahasiakan identitasnya. "Yang di karantina di rumah juga harus ditutup identitasnya," ujar Syahrizal.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4