Bertemu M, Ibu Muda yang Tewaskan Bayinya dan Iris Leher Anak Balitanya

Sitti Harlina - detikNews
Jumat, 28 Feb 2020 14:22 WIB
Ilustrasi Pemerkosaan Anak
Ilustrasi. Foto: Zaki Alfarabi / detikcom
Kendari -

Tragedi terjadi di kehidupan M (21), ibu muda yang menewaskan bayinya, Askiar (4 bulan), dan mengiris leher anak balitanya, Alfin (2 tahun). M diduga menderita sindrom baby blues saat menganiaya kedua anaknya.

M akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Kota Kendari untuk diperiksa kejiwaannya. Kami menemui M di rumah sakit, Kamis (27/2/2020) malam.

Awalnya M tampak khawatir saat akan bertemu. Dia terlebih dulu bertanya kepada kakaknya, Tahir (31), soal kami.

Pada akhirnya M bersedia bertemu. Sebelum berbincang, M meminta minum, karena sebelumnya sudah mengeluh haus karena baru saja bertemu dengan dokter dan diberi beberapa pertanyaan.

M tampak ramah. Tak tergambar sama sekali perempuan muda itu tega menenggelamkan bayinya hingga tewas, dan mengiris leher belakang anaknya.

Saesekali M melempar senyum. Dia bahkan menawari kami makan bersamanya.

Tahir bercerita, sebelum punya anak, adiknya itu tak pernah terlihat depresi. M berubah setelah ia melahirkan anak pertamanya.

"Dulu dia bergaul, anaknya ceria. Bagus bergaul sama teman-temannya," tutur Tahir.

M merupakan bungsu dari empat bersaudara. Meskipun M anak perempuan semata wayang, dia tidak manja kepada tiga kakak laki-lakinya.

"Mandiri orangnya," ujar Tahir.

Tahir menuturkan M menunjukkan tanda-tanda depresi setelah anak pertamanya lahir. Sejak saat itu, M menjadi sosok yang pendiam.

Namun memang diakuinya sejak menunjukkan tanda-tanda depresi, adiknya itu belum mendapatkan perawatan serius. Hal ini lantaran M tidak ingin berobat, padahal pihak keluarga sangat menginginkan M sembuh. Ia juga mengatakan masalah biaya keluarga akan mengusahakan.

"Jangankan ke rumah sakit, ke posyandu saja tidak mau, minum obat tidak mau," tutur Tahir.

Depresi yang dialami M kata Tahir biasa kambuh saat ada keinginannya yang tidak terpenuhi. "Selama tinggal sama saya itu, saya perhatikan kalau ada keinginannya lalu ditentang biasa kambuh lagi," katanya.

Hingga akhirnya tragedi itu terjadi, Selasa (25/2) sore sekitar pukul 16.00 WIB. Suami M saat itu sedang melaut.

"Suaminya itu baik sekali, mungkin kalau dapat suami yang pemarah adik saya sudah kena KDRT, tapi ini suaminya banyak mengalah," tutur Tahir.

Tak banyak yang diinginkan keluarga saat ini, pasca kejadian meninggalnya anak M. Saat ini M akan menjalani pemeriksaan kejiwaan hingga dua pekan. Keluarga berharap jika hasil kejiwaan keluar dan positif mengalami depresi maka M bisa direhabilitasi.

(tor/tor)