Puasa Rajab, Bacaan Niat, dan Keutamaannya

Niken Widya Yunita - detikNews
Senin, 24 Feb 2020 18:24 WIB
makanan puasa
Foto: Getty Images/Puasa Rajab, Bacaan Niat, dan Keutamaannya
Jakarta -

Bulan Rajab akan jatuh pada Selasa (25/2/2020). Pada bulan mulia ini, kita dianjurkan untuk berpuasa Rajab.

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang diagungkan Allah SWT. Sebab pada bulan ini terjadi Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW.


Selain itu, bulan Rajab termasuk dalam bulan Haram atau bulan yang disucikan. Bulan Haram terdiri dari 4 bulan yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa'dah, dan Zulhijjah.

Allah SWT berfirman tentang bulan Haram, termasuk bulan Rajab:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ

"Sesungguhnya ada dua belas bilangan bulan dalam ketetapan Allah Ta'ala. Di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat (bulan) yang haram (yang disucikan), itulah ketetapan agama yang lurus maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS At-Taubah ayat 36).


Dalam HR Al-Bukhari dan Muslim memperjelas ayat di atas. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda:


"Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya di hari saat Allah Ta'ala menciptakan langit dan bumi, satu tahun ada dua belas bulan. Di situ terdapat empat bulan yang diharamkan atau disucikan Allah. Tiga bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab adalah bulan yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya'ban."


Bulan Rajab juga disebut bulan yang mulia selain bulan Ramadhan. Karena itu kita dianjurkan melalukan amalan-amalan seperti puasa Rajab. Lalu berapa hari puasa Rajab pada bulan Rajab dan apa keutamaannya?


Dalam HR Imam al-Baihaqi dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda:


إنَّ في الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ له رَجَبٌ أَشَدُّ بَيَاضًا من اللَّبَنِ وَأَحْلَى من الْعَسَلِ من صَامَ من رَجَبٍ يَوْمًا سَقَاهُ اللَّهُ من ذلك النَّهْرِ


"Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sungai yang disebut Rajab. (Sungai Rajab) Lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, maka Allah kelak memberinya minum dari sungai tersebut."


Begitu juga HR At-Thabrani, Rasulullah bersabda:


"Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu neraka jahanam. Bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga. Dan apabila puasa 10 hari maka Allah akan mengabulkan semua permintaannya.


Dalam HR Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa puasa pada tanggal 27 Rajab, Allah mencatatnya seperti orang yang puasa selama 60 bulan."

Berikut ini niat puasa bulan Rajab:


نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِى شَهْرِ رَجَبِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

"Nawaitu sauma ghadin fi syahri rojabi sunatan lillahi ta'alaa,"

"Artinya: Aku berniat puasa sunah Rajab esok hari karena Allah SWT."

Hukum Puasa Rajab

Ada beda pendapat para ulama terkait hukum menjalankan puasa di bulan Rajab. Imam Suyuthi dalam Kitab al-Haawi lil Fataawi menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan dan kekhususan Puasa Rajab berkategori dha'if (lemah atau kurang kuat). Sejumlah ulama seperti Abu Bakar al-Tarthusi, Muhammad bin Manshur al-Sam'ani menyebut bahwa puasa buan rajab hukumnya makruh, sebab tak ada dalil yang kuat.

Namun ada juga sejumlah ulama yang tak melarang. Dikutip dari buku, berjudul Kumpulan Tanya Jawab Keislaman: Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB disebutkan bahwa dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah sebagaimana biasa diamalkan para ulama generasi salaf yang saleh telah bersepakat mengamalkan hadits dhaif dalam konteks amal-amal utama atau fada'il al a'mal.

Menurut Syaikhul Islam al-Imam al-Hafidz al- 'Iraqi dalam al-Tabshirah wa al- tadzkirah terkait hadits dha'if yang tidak maudhu' (palsu), maka para ulama sepakat memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedha'ifannya. Ini berlaku apabila hadist tersebut tidak berkaitan dengan hukum dan akidah, melainkan berkaitan dengan targhib atau motivasi ibadah dan tarhib (peringatan). Misalnya nasihat, kisah-kisah, juga fadha'il al-a'mal.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebut puasa sunah akan lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama atau al-ayyam al fadhilah. Dalam konteks bulanan dia menyatakan bahwa Bulan Rajab masuk dalam kategori al-asyhur al-fadhilah di samping Dzulhijjah, Muharram dan Sya'ban.

Wallahu a'lam bisshowab

Tonton juga 'Yuk Kendalikan Diri, Jangan Dikit-dikit Emosi saat Puasa':

[Gambas:Video 20detik]

(nwy/erd)