Bahaya! Tumpukan Sampah Rumah Tangga Bisa Bikin Ledakan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 22 Feb 2020 14:19 WIB
Sampah Rumah Tangga
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Jakarta -

Bicara mengenai sampah plastik di Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Meskipun banyak orang yang sudah mengampanyekan dampak buruk dari penyebaran sampah plastik, masih ada saja orang yang mengabaikan.

Tidak mengherankan laporan United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut lebih dari 400 juta ton plastik diproduksi pada 2015. Dari jumlah tersebut 36% di antaranya untuk kemasan plastik sekali pakai yang sering ditemui di supermarket.

Hal ini menjadi perhatian Founder Demi Bumi Jessica Halim. Jessica fokus pada edukasi mengurangi sampah plastik terutama dari rumah tangga. Mengingat kebanyakan sampah yang ada di Indonesia kini akibat abainya orang terhadap sampah.

"Kenapa dari rumah tangga? karena 48% sampah kita berasal dari rumah tangga. Sebanyak 60% itu sampah organik, dan itu berbahaya kalau kita tidak mengolahnya," ujar Jessica saat berbicara di TEDx Youth SWA, di Tangerang, Sabtu (23/2/2020).

Menurut Jessica banyak sampah dari rumah tangga yang tidak diolah ini membuat tempat pembuangan sampah akhir menggunung. Selain mencemarkan lingkungan juga berbahaya hingga berisiko mengakibatkan ledakan.

"Di bantar gebang itu sekarang ada sembilan gunung sampah tingginya 45 meter. Yang seharusnya 10 meter. Jadi Anda bayangin kalau Anda naik ke gunung itu kaki masuk ke dalam dan itu nggak pemilahan bisa bahaya," teranganya.

"Sebab 21 Februari kemarin hari peringatan sampah nasional, kenapa? Karena di Indonesia pernah kejadian pada 2005, 15 tahun yang lalu, sampahnya meledak, akibat kandungan gas metana, jadi sebetulnya sampah organik itu ternyata nggak boleh ditutup, karena itu mengeluarkan gas metana," jelasnya.

Selain bisa mengakibatkan risiko buruk, sampah juga bisa mencemari lingkungan termasuk ekosistem yang ada di laut. Dan ini bahaya bagi masa depan anak-anak Indonesia karena tidak ada keseimbangan lingkungan.

"Kita punya waktu 10 tahun lagi karena Menteri Kemaritiman dan Menteri Lingkungan kita sudah bicara setiap tahun itu di laut kita sampah plastiknya naik 10% dan mengendap nggak bisa terurai. Jadi kalau dipikirkan diakumulasi tahun 2030 akan lebih banyak sampah plastiknya dibanding ikan kita, tahun 2050 kita nggak punya ikan lagi jadi bagaimana nasib anak kita," ungkapnya.

Oleh karena itu, dia menuturkan perubahan besar dapat dimulai dengan langkah kecil, salah satunya dari diri sendiri. Hal kecil yang bisa dilakukan untuk menangani masalah sampah plastik ialah dengan memilah sampah dan mendaur ulang.

"Ketika kita bisa meluangkan waktu saja untuk memikirkan sampah kita, kita semua bisa mengurangi sampah plastik," pungkasnya.

Tonton juga video Ulat Pemakan Plastik Ini Disebut Bisa Bantu Berantas Sampah Dunia:

[Gambas:Video 20detik]

(prf/ega)