LBH Pembela Perempuan Disambangi Polisi dan Preman, Apa yang Terjadi?

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 21 Feb 2020 23:21 WIB
poster
Foto ilustrasi: Tidak berhubungan dengan berita (Edi Wahyono/detikcom)

LBH Apik Jakarta mendesak pihak Polres Jakarta Timur tetap melanjutkan proses hukum atas pelaporan kepada Propam secara profesional dan independen, meminta Polda Metro Jaya melakukan pengawasan terhadap proses hukum yang dilakukan Polres Jakarta Timur, meminta Komnas HAM melakukan perlindungan hukum kepada perempuan pembela HAM, dan mengajak masyarakat sipil untuk mengawasi kasus yang menunjukkan risiko intimidasi fisik dan psikis seperti yang dialami LBH Apik.

Rangkaian kedatangan polisi ke LBH Apik ini dilatarbelakangi penanganan kasus KDRT yang ditangani LBH Apik. LBH Apik mengadvokasi seorang perempuan dewasa dari Sulawesi Selatan yang hendak bersama pasangannya di Jakarta. Namun orang tuanya dari Sulawesi Selatan mencari-cari putrinya itu, meminta bantuan polisi, dan akhirnya mencari sampai ke LBH Apik.

Keterangan Polsek Matraman

Secara terpisah, detikcom meminta klarifikasi soal peristiwa di LBH Apik ini ke Kapolsek Matraman Kompol Tedjo Asmoro.

"Polisi tidak mungkin semena-mena. Nggak ada intimidasi," kata Tedjo.

Soal personelnya yang berinisial TR, dia mengatakan TR datang ke LBH Apik dengan surat perintah tugas (sprint) yang diperbarui sebulan sekali. Maka kedatangan personel polisi ke LBH Apik bukanlah kegiatan ilegal. Itu juga bukan penggeledahan paksa.

"TR ini yang datang pertama, ke resepsionis, menulis buku tamu, dan dibikinkan kopi pada 3 Februari," kata Tedjo.

TR datang ke LBH Apik karena sebelumnya ada suami-istri dari Sulawesi Selatan melapor ke polisi, meminta bantuan polisi untuk mencari anak perempuannya yang sudah dewasa itu di Jakarta. Perempuan itu dikatakan bersama pasangan prianya di Jakarta. Namun perempuan itu hanya bersedia menemui polisi di kantor LBH Apik saja. Maka polisi, termasuk TR, akhirnya datang ke LBH Apik pada 3 Februari.

"Ayah perempuan itu kemudian marah-marah ke kami karena kami tidak bisa membawa putrinya untuk bertemu dengannya. Lantas, kami membawa beliau ke LBH Apik untuk menunjukkan bahwa putrinya tidak ada di lokasi. Itu bukan penggeledahan," kata Tedjo.

Sang ayah yang sedang marah itu juga membawa banyak orang, yang disebut secara umum sebagai preman, untuk mencari putrinya. Dalam situasi seperti itu, polisi berusaha mengendalikan situasi.

"Kita sebagai polisi menyampaikan ke ayah dari Sulsel itu, bahwa ini sudah urusan polisi. Kita tidak ingin ada kegaduhan. Jadi tidak ada intimidasi ke LBH Apik," kata Tedjo.

Halaman

(dnu/gbr)