Mantan Komite BPH Migas Luncurkan Buku soal Arah Bisnis Energi di RI

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Jumat, 21 Feb 2020 20:04 WIB
BPH Migas
Foto: BPH Migas
Jakarta -

Komite BPH Migas periode 2007-2017 Ibrahim Hasyim meluncurkan buku 'Arah Bisnis Energi' yang membahas tentang energi dan potensinya di Indonesia. Buku ini juga berangkat dari kesadaran mendalam akan pentingnya pemahaman tentang seluk beluk energi serta peliknya energi bagi kebutuhan kehidupan manusia.

"Energi itu sangat penting. Jika energi tidak ada, dapat dibayangkan betapa sulitnya kehidupan manusia, 75% energi primer yang ada sekarang dihasilkan menggunakan energi fosil, oleh karena itu jika tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi bencana bagi umat manusia," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (21/2/2020).

Hal itu diucapkannya dalam Launching dan Diskusi Buku 'Arah Bisnis Energi' di Gedung Patra Jasa, Jakarta pada Jumat (21/2/2020). Selain Ibrahim, pembicara lainnya yang hadir yaitu Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa, Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, dan ekonom Faisal Basri.

Kata Ibrahim, buku ini diharapkan dapat hadir menjadi sebuah masukan, terutama bagi pemerintah dalam menentukan dan memandu arah bisnis untuk penyediaan energi yang dapat menjadi tolok ukur dan acuan untuk pengembangan bisnis energi di Indonesia yang lebih baik lagi.

"Jika tidak pandai mengatur ketersediaan dengan peningkatan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bisa terjadi ketidakcukupan gas bumi pada masa tertentu," tambah Ibrahim.

Diungkapkannya, buku ini menyebutkan di akhir bahwa masih ada beberapa hambatan dalam pengembangan energi nasional, misalnya pada kebijakan dan regulasi, tantangan teknis, skema bisnis, dan pendanaan.

"Hal ini perlu sama-sama dicari solusinya. Perlu upaya bersama untuk mengembangkan energi yang merupakan karunia Tuhan yang luar biasa bagi bumi Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa menjelaskan terkait bidang hilir migas secara singkat, khususnya bidang BBM dan jaringan gas. Ia mengatakan konsumsi BBM total dalam setahun mencapai 75 juta KL yang terdiri dari 14,5 juta KL Jenis BBM Solar (JBT) dan 11 juta KL Premium (JBKP).

"Perlu kami informasikan bahwa untuk jenis Premium memang kini sudah tidak lagi disubsidi dalam APBN, tetapi dibebankan kepada Pertamina. Ke depan, jargas akan terus dikembangkan. Ada rencana membangun sampai 10 juta sambungan rumah tangga. Jargas bisa menekan konsumsi LPG karena harganya lebih murah," ucap Ifan, sapaan akrabnya.

(akn/ega)