Jaksa Cecar Saksi soal Pembelian Rumah di Australia di Sidang Wawan

Faiq Hidayat - detikNews
Kamis, 20 Feb 2020 16:28 WIB
Tubagus Chaeri Wardana
Mantan pegawai dari perusahaan milik Tubagus Chaeri Wardana saat bersaksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. (Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta -

Ferdy Prawiradireja buka-bukaan mengenai sejumlah penggunaan uang dari proyek yang dikerjakan PT Bali Pasific Pragama (BPP). Perusahaan itu diketahui milik dari Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.

Jaksa KPK menyebut Wawan mengatur sejumlah proyek di Banten dan Tangerang Selatan (Tangsel) untuk dimenangkan perusahaannya. Ferdy yang merupakan mantan pegawai PT BPP membuka soal penggunaan uang perusahaan dalam persidangan.

Berita acara pemeriksaan (BAP) Ferdy lantas dibacakan jaksa. Keterangan Ferdy menyebutkan adanya pembelian rumah di Australia.

"Saudara jelaskan di BAP, 'Saya mengetahui jika Pak Wawan mempunyai beberapa rumah di Australia, pembelian untuk rumah di Australia bersumber dari uang atas ajuan-ajuan yang pernah direkap oleh Farid staf PT BPP, ajuan untuk pembayaran itu berasal dari uang proyek milik PT BPP', benar ya?" kata jaksa kepada Ferdy dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Kamis (20/2/2020).

"Iya benar," ucap Ferdy.

Selain itu, jaksa membacakan keterangan Ferdy dalam BAP yang mengaku pernah diajak Wawan untuk menonton Formula 1 (F1) di Melbourne, Australia. Dalam keterangan itu pula Ferdy mengaku setelahnya ikut melihat-lihat rumah di Australia yang akan dibeli Wawan. Ferdy mengaku agak lupa mengenai keterangan itu.

"Saya lupa, tapi keterangan saya di situ," ujar Ferdy.

Selain di Australia, Ferdy mengetahui Wawan membeli aset tanah di Bali seperti di daerah Kuta, Purimas, dan Ubud. Pembelian aset itu diketahui dari pencairan cek yang ditunjukkan penyidik KPK pada Ferdy saat menjalani pemeriksaan di KPK.

"Ya itu diperlihatkan penyidik ceknya, itu untuk di Bali beli tanah di Ubud," kata Ferdy.

Untuk pembelian aset di Ubud itu, keterangan Ferdy menyebutkan pencairan cek Rp 27 miliar. Selain itu, ada pencairan cek Rp 650 juta yang menurut Ferdy untuk pembelian aset di Kuta dan Rp 3,2 miliar untuk aset di Purimas. Pencairan cek itu disebut untuk cicilan pembelian aset-aset tersebut.

Dalam persidangan ini, Wawan duduk sebagai terdakwa dalam kapasitas Komisaris Utama PT BPP. Dia didakwa merugikan negara terkait pengadaan alat kesehatan (alkes) di Banten dan Tangsel serta tindak pidana pencucian uang (TPPU).

(fai/dhn)