Gimana Penelitian Rokok Elektrik di Indonesia Seharusnya Dilakukan?

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 14:10 WIB
vape
Foto: shutterstock
Jakarta -

Sebuah studi yang didukung oleh National Institute for Health Research and Cancer Research UK membuktikan rokok elektrik dapat menjadi terapi untuk berhenti merokok. Studi yang dilakukan di Inggris tersebut dimulai pada April 2015 dan berakhir pada Maret 2018.

Memang merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, kanker, dan lainnya. Hal tersebut menyebabkan banyak orang yang berusaha berhenti merokok. Salah satu cara mereka untuk membantu dalam berhenti merokok adalah dengan menggunakan rokok elektrik.

Lebih lanjut, studi yang dilakukan oleh National Institute for Health Research and Cancer Research UK tersebut mencoba untuk menjawab pernyataan tersebut. Penelitian itu juga bertujuan untuk melihat tingkat pantang yang tervalidasi secara biokimia selama 12 bulan pada perokok yang menggunakan rokok elektrik dibandingkan dengan pengganti nikotin (NRT). Partisipan penelitian tersebut berjumlah 886 orang yang berusia 18 tahun ke atas dan merupakan perokok aktif yang sedang mengikuti program berhenti merokok.

Peneliti membagi separuh dari total partisipan untuk menggunakan rokok elektrik, dan separuhnya lagi menggunakan produk pengganti nikotin (seperti nicotine patch dan permen karet nikotin). Semua partisipan studi mendapatkan layanan konseling individual setiap minggu selama empat minggu. Setelah setahun, pengurangan rokok akan terbukti dengan mengukur banyaknya karbon monoksida yang dihirup. Lalu bagaimana hasilnya?

Hasil temuan pertama dari penelitian itu adalah 18% partisipan yang menggunakan rokok elektrik berhasil berhenti merokok selama setahun, dan hanya 10% yang menggunakan NRT berhenti merokok. Dari total orang yang sukses berhenti merokok tersebut, 80% partisipan masih menggunakan rokok elektrik, dan hanya 9% pengguna NRT yang tetap menggunakan NRT. Tak kalah menarik, laporan batuk dan adanya dahak lebih rendah pada partisipan yang menggunakan rokok elektrik.

Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa rokok elektrik lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibandingkan dengan produk pengganti nikotin. Namun hal tersebut harus disertai dengan tindakan pendukung seperti konseling agar memiliki dampak yang maksimal.

Sayangnya di Indonesia penelitian mengenai rokok elektrik masih sangat sedikit dan tidak berasal dari sumber yang dapat dibuktikan secara metodologis. Rokok elektrik dianggap hanya memiliki dampak negatif bagi pengguna, tanpa melihat manfaatnya sebagai medium terapi berhenti merokok. Hal tersebut sangat disayangkan karena masyarakat sudah mengetahui dampak buruk dari rokok konvensional terhadap penggunanya terutama jika terpapar pada anak-anak, namun tidak mengetahui cara mencegahnya menggunakan rokok elektrik.

Menanggapi hal tersebut, peneliti dari Universitas Padjajaran dan co-founder Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik drg. Amaliya mengatakan penelitian mengenai rokok elektrik dapat dilakukan dengan metode yang lebih tepat, seperti penelitian uji emisi aldehid dari rokok elektrik di laboratorium, sebaiknya dilakukan dengan kondisi yang sesuai dengan yang digunakan oleh vaper.

Ada beberapa penelitian yang menggunakan kondisi vaping yang bertolak belakang dengan kondisi nyata, contohnya alat vaping generasi 1 atau 2 yang sudah tidak dipakai lagi, suhu yang terlalu panas sehingga menyerupai pembakaran, interval puff atau isapan yang terlalu dekat waktunya dan cairan yang digunakan melebihi jumlah konsumsi per hari sehingga menghasilkan emisi aldehid yang tinggi.

"Peneliti harus melakukan observasi terlebih dahulu pada pengguna vape, bagaimana kebiasaan dan kondisi apa yang tepat yang bisa disimulasikan di laboratorium sehingga mendekati kondisi nyata penggunaan vaping, hal ini telah dianalisis oleh peneliti Dr Farsalinos dkk (2018) dan telah dipublikasikan pada Food and Chemical Toxicology," ujar drg Amaliya dalam keterangan tertulis, Senin (17/2/2020).

"Maka dari itu, saya mengajak semua pihak untuk tidak membuat asumsi berdasarkan sumber-sumber yang tidak bisa dibuktikan secara metodologis," tambahnya.

(mul/ega)