Demi Pengobatan Putri Tercinta, Pria di Sumut Nekat Mau Jual Ginjal

Ahmad Arfah Fansuri - detikNews
Selasa, 18 Feb 2020 17:22 WIB
Rahmat, warga Deli Serdang, Sumut, berencana menjual ginjalnya demi pengobatan anak tercinta (Ahmad Arfah/detikcom)
Foto: Rahmat, warga Deli Serdang, Sumut, berencana menjual ginjalnya demi pengobatan anak tercinta (Ahmad Arfah/detikcom)
Deli Serdang -

Rahmat, warga Gang Bogel, dusun XVI, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, nekat mau menjual ginjal demi membiayai pengobatan anaknya. Ia membawa poster di jalanan Kota Medan menawarkan pihak yang mau membeli ginjalnya.

Aksi Rahmat yang direkam salah seorang pengendara kemudian viral di sosial media. Saat ditemui di rumahnya, Rahmat, menyatakan keseriusannya untuk menjual ginjal miliknya itu.

"Saya serius mau jual ginjal. Ini untuk berobat anak saya," kata Rahmat kepada detikcom, Selasa (18/2/2020).

Rahmat nekat hendak menjual ginjal karena tidak mampu membiayai pengobatan anaknya, Siti Rahayu, yang sudah sakit sejak usia 9 bulan. Kini Siti sudah berusia 7 tahun, ia memiliki penyakit epilepsi dan kelumpuhan di dua kakinya.

"Kalau berobat ya selalu, udah pindah-pindah rumah sakit. Pakai BPJS, tapi yang mandiri, yang bayar itu. Itupun kemarin sempat tidak bisa dipakai karena nunggak 3 bulan," jelas Rahmat.

Rahmat mengaku kesulitan membayar iuran BPJS yang ia miliki. Gaji yang diperolehnya dari bekerja sebagai satpam sebuah komplek perumahan tidak cukup untuk membayar iuran BPJS.

"Gaji saya Rp 35 ribu perhari. Hanya cukup untuk makan sehari-hari, kadang pun kurang. Apalagi yang mau dipakai untuk bayar BPJS," tutur Rahmat.

Saat ditanya mengenai bantuan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diberikan pemerintah, Rahmat mengatakan belum memilikinya. Hal ini terkendala dengan perlengkapan administrasi yang belum ia miliki.

"Sudah pernah urus KIS, tapi terkendala surat-suratnya. Kemarin sudah coba ngurus juga sampai ke Lubuk Pakam, tapi tidak berhasil. Kartu keluarga saya juga baru keluar, selama ini masih menumpang di kartu milik orang tua," paparnya.

(jbr/jbr)