Disiram Air Pas Meliput, Wartawan Malang 'Labrak' Kapolwil

Disiram Air Pas Meliput, Wartawan Malang 'Labrak' Kapolwil

- detikNews
Kamis, 01 Des 2005 17:15 WIB
Malang - Sekitar 50 wartawan yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Malang Raya berunjuk rasa di Markas Polisi Wilayah (Mapolwil) Malang. Mereka memrotes tindakan polisi yang telah menghalang-halangi tugas wartawan saat meliput rekonstruksi pabrik ekstasi di Jalan Metro Batu, Malang, Jumat (25/11/2005) lalu. "Kedatangan kita ke Mapolwil Malang ini untuk menemui Kapolwil," kata juru bicara Aliansi Wartawan Malang Raya, Sri Mulyono Herlambang, kepada wartawan di halaman Mapolwil Jl. Panglima Sudirman Malang, Kamis (1/12/2005). Selain menghalang-halangi tugas para wartawan, beberapa polisi yang saat itu bertugas di sekitar pabrik ekstasi juga melakukan tindakan pelecehan terhadap profesi wartawan. "Mereka menghalangi kita mengambil gambar saat petugas melakukan rekonstruksi di TKP, bahkan beberapa polisi menyemprot kita pakai air dengan selang," ujar Herlambang, reporter TransTV biro Malang. Setelah berorasi di halaman Mapolwil, puluhan wartawan yang juga tergabung dalam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Malang dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini diterima langsung Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polwil Malang AKBP Purnama di ruang eksekutif Mapolwil. Protes serupa juga disampaikan pada Kapolda Jatim dan Kapolri. Wartawan meminta agar pelaku penyemprotan air terhadap wartawan yang berusaha meliput reka ulang, diusut. Di hadapan Kabag Ops, Aliansi Wartawan Malang Raya meminta agar polisi secepatnya mengusut tuntas kasus yang telah melecehkan profesi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik itu. Wartawan juga mempertanyakan ada apa dengan kasus tersebut, sehingga wartawan dipersulit mencari informasi."Penggerebekan pabrik ekstasi di Serang maupun yang ada di Banyuwangi, wartawan diperbolehkan masuk ke dalam pabrik untuk melihat maupun mengambil gambar. Tapi, kenapa yang ada di Batu kita tidak diperbolehkan. Bahkan, kita mengambil gambar di luar police line pun masih disiram pakai air, ada apa semua ini?" protes Herlambang. Selain berorasi, puluhan wartawan yang berunjuk rasa juga membawa berbagai poster yang bertuliskan "Transparan dong jangan tutupi kasus ekstasi", "Stop arogansi polisi" dan "Ada apa dengan pabrik ekstasi Batu". Para jurnalis juga meletakkan seluruh kamera dan ID Cardnya masing-masing di depan pintu masuk Mapolwil. Kedatangan puluhan wartawan dari media cetak, radio dan televisi ke Mapolwil sempat membuat kaget beberapa polisi yang berjaga di pos piket. Mereka mengaku biasanya kedatangan wartawan ke Mapolwil untuk mencari berita. Tapi sekarang ini malah melakukan unjuk rasa. "Saya pikir mereka mau nyari berita seperti biasanya. Eh nggak tahunya unjuk rasa," kata salah seorang penjaga pos piket Mapolwil. (nrl/)


Berita Terkait