Antivenom Ular Weling Belum Ada, Pakar Ingatkan Pertolongan Pertama

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Sabtu, 15 Feb 2020 09:51 WIB
Ular weling (bungarus candidus) adalah jenis ular berbisa dari suku elapidae yang menyebar di Asia Tenggara hingga ke Jawa dan Bali.
Ular Weling (Foto: Istimewa/Instagram)
Jakarta -

Gigitan ular weling (Bungarus candidus) baru-baru ini menewaskan seorang balita di Cirebon. Meski belum ada penawar racun atau antivenom khusus untuk gigitan ular weling, pertolongan pertama sangat berpengaruh untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

"Jadi banyak orang memakai first aid yang salah, yang disedot, dikeluarkan darahnya. Karena mereka masih percaya bisa ular lewat pembuluh darah, padahal lewat kelenjer getah bening," kata ahli bisa ular dari WHO yang bertugas di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr dr Tri Maharani, saat dihubungi, Jumat (14/2/2020) malam.



Tri mengatakan saat ini masih banyak orang yang mengikat tangan dan menyedot bekas gigitan ular untuk mengeluarkan bisa. Cara itu, kata Tri, tidak tepat karena bagian tubuh yang didigit ular harusnya segera diimobilisasi atau dibuat tidak bisa bergerak.

"Jadi first aid yang benar dibuat tidak bergerak, atau imobilisasi, yaitu membuat bagian yang tergigit ular tidak bergerak. Misalnya tangan, dari ujung sampai sendi yang tidak bergerak itu dilakukan pembidaian, bisa pakai kayu, kardus, bambu, atau bisa dibedung, pokoknya dibuat tidak bergerak. Jadi fist aid yang imobilisasi ini banyak dilakukan karena masyarakat tidak tahu," paparnya.

Setelah dilakukan imbilisasai, korban gigitan ular harus segera dibawa ke tempat pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan harus melakukan penanganan pada pernapasan korban atau melakukan airway breathing circulation.

Tonton juga Usai Koma 5 Hari, Balita yang Digigit Ular Weling Meninggal :



"Langkah selanjutnya dibawa ke tempat pelayanan kesehatan. Yang jadi masalah kemarin anak itu sempat tertolak di rumah sakit yang pertama. Menurut saya, saya mengimbau pada seluruh rumah sakit dan puskesmas untuk melakukan airway breathing sirkulasi dulu sebagai pertolongan emergency dan tidak bingung dengan anti bisa ular, sehingga pasien itu tidak ter-delay pertolongan emergency-nya," ucapnya.

"Jadi harusnya begini, masyarakat tahu first aid yang benar, medis tahu pertolongan emergency yang benar yaitu airway breathing sirkulasi, dan antivenom yang cocok. Kalau misalnya tidak ada di Indonesia, bisa minta saya, karena saya memberikan gratis itu," imbuhnya.

Tri menyebut saat ini antivenom yang ada di Indonesia diperuntukkan untuk 3 jenis ular. Antivenom yang ada itu juga dipakai untuk menangani korban gigitan ular weling.

"Antivenom Indonesia itu untuk tiga jenis ular, yaitu Naja sputatrix atau kobra Jawa, kemudian Bungarus fasciatus atau welang, sama Calloselasma rhodostoma atau ular tanah. Karena biofarma belum membuat sebuah riset cross netralisasi untuk Naja Sumatrana atau kobra Sumatera, dan Bungarus Candidus atau weling maka kami para dokter masih bisa pakai kecuali kalau nanti ada riset yang menunjukkan tidak bisa pakai," ucap Tri.



Sebelumnya, Adila (4), bocah perempuan asal Kabupaten Cirebon, meninggal karena digigit ular weling atau Bungarus candidus. Sebelum meninggal, Adila sempat koma selama lima hari di RSD Gunung Jati Kota Cirebon.

Sejak Sabtu (8/2) hingga Rabu (12/2) kemarin, Adila koma. Bisa ular weling menyebar ke tubuhnya. Adila menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 20.30 WIB, Rabu (12/2).

(abw/dnu)