Embargo Dicabut, TNI AU Belum Tentu Beli Pesawat Baru
Rabu, 30 Nov 2005 21:54 WIB
Jakarta -
Kendati embargo peralatan militer untuk Indonesia telah dicabut namun bukan berarti TNI AU akan membeli pesawat-pesawat baru dari AS."Bukan berarti embargo dicabut lalu pesawat kita berterbangan semua. Tak semudah itu," kata Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Djoko Suyanto kepada wartawan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (30/11/2005). Namun, katanya, dengan dicabutnya embargo itu justru lebih memudahkan membeli suku cadang pesawat tempur yang dimiliki sebelumnya seperti F5 dan F16. Djoko juga menepis anggapan dengan dicabutnya embargo itu Indonesia akan menarik semua pesawat tempur yang tertahan di luar negeri seperti yang dilansir sejumlah media. Justru menurutnya hanya satu pesawat yang tertahan yakni F5 milik TNI AU yang dikirim ke AS untuk diganti sayapnya. "Itu yang tertahan di sana karena embargo itu. Pesawat yang lain tidak ada. Namun yang lain, seperti komponen avionik, engine termasuk engine yang dioverhaul cukup banyak tersebar di AS, Inggris, Belgia, New Zeland, Brazil, Korea Selatan, Malaysia dan Singapura," katanya. Kenapa onderdil itu berada di negara itu? Karena dalam kontraknya barang-barang itu berada di sana sebelum barang dikirim ke Indonesia. "Setelah ditandatangani kontrak terjadi embargo," ujarnya. Sedangkan pesawat jenis angkut herkules tidak pernah diembargo, bahkan suku cadangnya bisa beli dimanapun dan kapanpun. "Hanya saja soal anggaran yang menghambatnya," katanya.Namun jika pemerintah meminta ini diselesaikan, kata Djoko, pihaknya akan menyusun kembali dan menginventarisir barang-barang apa saja yang kontraknya jelas. Tapi kemungkinan hal ini membutuhkan waktu yang lama. "Saya kira sekitar 1-1,5 tahun," ujarnya. KSAU menyatakan, pengembangan pesawat TNI AU adalah bagian program dari rencana program pembangunan rencana TNI 2005-2009 dimana program ini menaikkan kesiapan kekuatan pesawat dari 35 persen menjadi 80 persen. Karena selama ini pesawat yang dimiliki TNI AU relatif tua karena berumur antara 30-35 tahun seperti F27, F5, pesawat T58, Sky Skossky (twin pack) dan pesawat jenis Hawk MK53. "Ini akan diperbarahui dan dievaluasi dan dikaji untuk diganti pada tahun 2008," tukasnya. Untuk pesawat jenis Sukhoi akan tetap berjalan namun untuk memenuhi satu suakdron sangat tergantung dari anggaran yang diberikan pemerintah kepada TNI AU. Dephan, Depkeu dan Bapenas menyatakan TNI AU hanya dapat alokasi dana Rp 1,2 triliun dalam lima tahun ke dapan. "Nilai ini tidak mungkin untuk melengkapi Sukhoi sampai satu skuadron," ujarnya.Dia berharap agar semua pesawat yang ada di tiga skuadron bisa dipenuhi oleh PT DI seperti untuk Super Puma dan Cassa. "Soalnya PT DI sudah mampu membuat pesawat jenis ini. Bahkan Pakistan dan Malaysia membelinya dari Indonesia," ujarnya.
(mar/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































