Hanya 45 % Warga Aceh Cinta RI
Rabu, 30 Nov 2005 16:22 WIB
Jakarta - Kesepakatan Helsinki terbukti telah memberikan rasa aman pada masyarakat Aceh. Namun itu tak berarti masyarakat Aceh bisa semakin mencintai Indonesia. Dari hasil penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI), hanya 45,5% warga Aceh yang merasa sebagai orang Indonesia. Dari jumlah itu hanya 35% yang mau berperang demi NKRI. Hasil survei LSI itu disampaikan Direktur LSI Denny Januar Ali dalam pemaparan hasil survei LSI tentang Aceh pasca MoU Helsinki di Hotel Sahid, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (30/11/2005). Survei LSI digelar pada 24-30 Oktober 2005 di Aceh dengan 440 responden. Dari survei itu diketahui, 76,5% responden mengatakan Aceh semakin baik pasca MoU Helsinki. Sementara 68,1% mengatakan Aceh lebih aman. Sedangkan yang mengatakan keamanan Aceh buruk hanya 9,6 %.Di sisi lain, survei itu juga menunjukkan rasa ke-Indonesiaan masyarakat Aceh yang rendah. Survei membuktikan hanya 45,5% masyarakat Aceh merasa sebagai orang Indonesia. Sementara 36,9% merasa sebagai suku bangsa, dan 17,6% sebagai agama tertentu."Mayoritas yang tidak merasa sebagai orang Indonesia adalah dari kalangan anak muda dari kalangan muda. Usianya 30 tahun ke bawah," papar Denny. Selain itu, rasa kebanggaan warga Aceh menjadi WNI juga rendah. Hanya 56% masyarakat Aceh yang bangga menjadi WNI. Sebanyak 44% lainnya tidak bangga sebagai WNI. Padahal secara nasional, hasil survei LSI bulan Agustus 2005 menunjukkan 93% orang Indonesia bangga menjadi WNI. Yang lebih menyedihkan lagi, hanya 35% masyarakat Aceh yang bersedia berperang bagi NKRI. Sebanyak 28,8% tidak bersedia. Dan 36,2% tidak tahu. "Penyebab rendahnya rasa keindonesiaan masyarakat Aceh yaitu mereka kecewa terhadap representasi Indonesia di Aceh. Hal ini terbukti masyarakat Aceh lebih percaya pada mahasiswa dibanding lembaga negara apalagi parpol," jelas Denny.Hasil survei menunjukkan, masyarakat Aceh yang percaya terhadap DPD hanya 33,5%. Percaya kepada DPRD 29,1% dan percaya pada parpol 25%. Sementara yang percaya pada mahasiswa 56,3%. Pemicu rendahnya rasa keindonesiaan lainnya yakni masyarakat Aceh kecewa dengan kondisi ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja yang dianggap sebagai buah kebijakan pemerintah pusat. Dari hasil survei yang mengatakan politik baik 34%. Penegakan hukum baik 24,6% dan ekonomi baik 17,4%.Denny mengingatkan rendahnya rasa cinta pada Indonesia bisa sangat membahayakan bagi warga Aceh. "Ini bisa jadi bom waktu, bisa lahir generasi yang makin radikal di Aceh karena mereka semakin asing dengan keindonesiaan, " kata Denny Menurut Denny, ada tiga variabel yang menentukan rekonsialiasi di Aceh akan sukses atau gagal. Pertama, yaitu seberapa jauh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) selaku representasi Indonesia berhasil membangun Aceh.Kedua, seberapa jauh GAM ikut mendorong rekonsialiasi di bawah NKRI dan UUD 1945. Ketiga, seberapa jauh UU pemerintahan daerah di Aceh disepakati pihak GAM dan DPR."Jika tokoh GAM menganggap MoU Helsinki hanya sasaran antara itu dapat memprovokasi publik Aceh semin menjauh dari sentimen NKRI," tandas Denny.
(iy/)











































