Ketua Kadin Ingin Teman-temannya di Kabinet Dipertahankan
Rabu, 30 Nov 2005 15:43 WIB
Jakarta - Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) MS Hidayat berharap teman-temannya yang duduk di kabinet SBY-JK diberi waktu setahun lagi. Kalaupun terkena reshuffle, dia menginginkan teman-teman pengusaha lain tetap bisa masuk kabinet."Kita memberi waktu setahun lagi kepada teman-teman di dalam," kata Hidayat ketika ditanya tentang kinerja kabinet pemerintahan SBY-JK, di sela acara pertemuan dengan misi dagang Turki di Hotel Ritz Carlton, Jalan Lingkar Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (30/11/2005).Hidayat menuturkan, pengusaha menjadi menteri adalah tren global yang bukan saja terjadi di Indonesia, tapi juga di negara lain, seperti Malaysia dan Thailand.Hanya saja di luar negeri terdapat kode etik yang memiliki sanksi moral. Kode etik itu adalah pengusaha yang menjadi menteri tidak bisa lagi mencari keuntungan langsung atau tidak langsung untuk perusahaannya atau insider information.Tampaknya, kata Hidayat, Presiden SBY juga sedang menyusun kode etik tersebut. "Kalau pengusaha kembali masuk kabinet, harus dipisahkan domain antara private dan government," ujarnya.Namun dia menilai, masalah reshuffle adalah hak prerogatif presiden. Kalau presiden menganggap perlu, maka harus dilakukan segera, sehingga orang tidak lagi berpolemik."Yang pasti ke depan harus fokus, reshuffle bisa dilakukan presiden kalau mau sukses dalam economic development," ujarnya.Mengenai kabar dirinya akan dipilih menjadi Menteri Perdagangan, Hidayat hanya menanggapinya dengan tersenyum."Saya dipilih menjadi Ketua Kadin itu sampai masa jabatannya habis tahun 2009. Kalau dipilih, saya menolak. Ke depan, menteri-menterinya teman-teman saya saja, supaya programnya jelas," tutur Hidayat.Ketika ditanya bahwa masuknya pengusaha tetap membuat industsri tidak berjalan, Hidayat menampiknya."Teman-teman saya yang di kabinet punya visi dan program bagus, tapi ketika menjadi menteri tidak bisa adjustment terhadap birokrasi. Karena memimpin birokrasi menjadi hal yang belum pernah dialami, berbeda dengan memimpin perusahaan," kata Hidayat.
(ir/)











































