Isi Kuliah Umum di Unhas, Khofifah Bicara Kepemimpinan di Era Milenial

Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 15:58 WIB
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengisi kuliah umum di Unhas Makassar (MN Abdurrahman/detikcom)
Foto: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengisi kuliah umum di Unhas Makassar (MN Abdurrahman/detikcom)
Makassar -

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membawakan kuliah umum tentang kepemimpinan di hadapan ratusan mahasiswa dan civitas akademika Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Khofifah berbagi pengalamannya di dunia politik dan pemerintahan pada mahasiswa Unhas, di sela kunjungannya, menghadiri pengukuhan adik iparnya, Prof. Dian AA Parawansa sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Unhas, di kampus Unhas, Tamalanrea, Selasa (11/2/2020). Mendiang suami Khofifah, almarhum Indar Parawansa merupakan warga asal Takalar, Sulsel.

Di hadapan para mahasiswa, menceritakan pengalamannya menjadi pimpinan fraksi dan komisi DPR RI di usia muda, tahun 1992 silam. Sebelumnya, Khofifah sempat menolak ajakan menjadi anggota legislatif Partai Persatuan Pembangunan (PPP) karena menganggap anggota DPR RI paling lama "dihisab" di hari kemudian, karena tugasnya sebagai wakil rakyat.

"Saat itu saya merasa masih bau kencur memimpin DPR, di hadapan anggota-anggota fraksi yang rata-rata di atas usia 60 tahun, banyak jenderal di Fraksi ABRI dan guru besarnya, kuncinya sesuai yang diajarkan Gus Dur (Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid): do yourself and do the best," ujar Khofifah.

Tidak lama setelah menjabat pimpinan DPR di era Orde Baru, Khofifah kemudian diajak Presiden Gus Dur menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Saat diajak, Khofifah meminta Gus Dur mengubah nama jabatan Menteri Peranan Wanita menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Saat menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan, Khofifah membuat beberapa terobosan, seperti lahirnya Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) dalam pembangunan nasional, serta penerapan gender harmony partnership, yang salah satu bentuknya dengan menghormati sikap perempuan memilih jalan hidup mengurusi keluarga atau berkarir.

Dengan menjadi Gubernur Jatim, Khofifah juga membuat beberapa terobosan di kepemimpinannya, seperti pemberdayaan kelompok usia milenial di Millenial Job Center, penerapan digital marketing lewat pembentukan East Java Super Corridor (EJSC), mendukung gerakan ekonomi santri: satu pesantren-satu produk, serta memberikan tunjangan kehormatan pada 6.000 penghafal Al Quran, serta 11.000 penjaga musala dan masjid di seluruh Jatim.

Khofifah juga membeberkan kebiasaannya sejak duduk kelas 2 SMP, ia telah membiasakan memadukan 25 persen belajar, 25 persen istirahat, dan 50 persen ibadah. Selain ibadah salat, mengaji, menghafal ayat, dan berdoa, dia juga membuat gerakan menghapuskan beban para tetangganya dari jerat hutang rentenir. Khofifah mengajak anggota keluarganya membentuk koperasi simpan pinjam yang antiriba.

Di hadapan mahasiswa, Khofifah juga menceritakan keteguhan hatinya untuk mempertahankan keyakinannya tetap menggunakan jilbab saat berkuliah di FISIP Univ. Airlangga, Surabaya, pada tahun 1984, yang pada saat itu jilbab dilarang digunakan muslimah di kampus.

"Saat itu saya banyak mendapat simpati dari beberapa guru besar Unair, yang membela dan menguatkan saya," pungkas Khofifah.

Simak Video "Khofifah Temui Mendagri Bahas Pemangkasan Eselon III & IV"

[Gambas:Video 20detik]

(mna/jbr)