Pembantaian Klan Degodia Gegara Konflik Lahan Penggembalaan

ADVERTISEMENT

Mesin Waktu

Pembantaian Klan Degodia Gegara Konflik Lahan Penggembalaan

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Senin, 10 Feb 2020 21:27 WIB
Museum pembantai Wagalla di Kenya ( dok. Nation)
Foto: Monumen pembantaian Wagalla di Kenya ( dok. Nation)
Jakarta -

Tepat tanggal ini pada 36 tahun lalu, berlangsung salah satu peristiwa terkejam dalam sejarah Kenya. Ribuan laki-laki dari klan Degodia tewas dibantai aparat bersenjata Kenya, sementara kaum perempuan diperkosa. Kejadian ini kemudian dikenal dengan sebutan pembantaian Wagalla.

Peristiwa ini berlangsung pagi-pagi sekali. Saat itu penduduk kota Wajir yang terletak di Provinsi Woqooyi Bari dikejutkan deruman puluhan truk yang mendekat ke kediaman mereka. Saat keluar rumah, mereka baru menyadari kawasan itu telah dikepung tentara dan polisi bersenjata.

Aparat kemudian menanyakan dan meminta identitas warga. Bagi para lelaki yang punya nama masuk dalam klan Degodia dari etnis Somalia dikumpulkan. Dipisahkan dari istri dan anak. Proses ini berlangsung beberapa jam lamanya. Saat itu mereka tidak menyadari kejadian yang bakal menimpa.

Mohammed Osman Gosar pada Al Jazeera mengungkapkan istri dan anak perempuannya diperkosa di depan matanya. Sementara dirinya dan lelaki lain kemudian dibawa ke landasan udara Wagalla yang terletak 15 km dari Wajir. Para lelaki ini diminta melepaskan pakaian dan tiarap di tanah.

Bulan Februari itu puncak musim panas di Kenya. Saat matahari mulai naik, tanah semakin panas. Tentara semakin ganas mencambuki dan memukul mereka dengan senjata. Beberapa dari tawanan ini bahkan dibakar hidup-hidup.
Sementara penderitaan Osman semakin besar ketika melihat empat saudaranya dipenggal. "Saya justru mengharapkan mati saja di tempat itu," ujar Osman seraya menghapus air matanya.

Ketika para lelaki sudah dibawa ke Wagalla, tentara mulai membakar pemukiman. Beberapa kemudian mendekati perempuan-perempuan dan mengambil mereka untuk diperkosa. Salah satu perempuan memberi kesaksian, tentara itu berkata, "Kami telah membantai suami-suami kalian dan sekarang kamilah suamimu."

Penyiksaan brutal ini berlangsung kurang lebih lima hari. Orang-orang yang ditahan tentara tersebut hanya berbaring di atas bebatuan. Tanpa diberikan makanan dan minuman. Bagi mereka yang melarikan diri langsung ditembak mati. Satu per satu mereka tewas karena panas serta kehausan.

Menurut para korban yang bisa bertahan hidup sekitar lima ribu orang tewas dalam hari-hari kelam itu. Sementara pemerintah Kenya awalnya mengakui hanya ada 57 korban. Angka ini kemudian diralat menjadi 365 orang. Menurut Al Jazeera pembantaian itu sebagai bagian menghilangkan klan Degodia yang terlibat dalam konflik penguasaan lahan penggembalaan ternak di Wajir.

Kantor berita The Star di Kenya menyebut peristiwa itu merupakan tindakan genosida yang telah direncanakan. Dimulai dari pertemuan komite kabinet tingkat tinggi di Harambee House. Perintah diberikan untuk memulai operasi keamanan pada klan Somalia yang tinggal di Wajir.


Belakangan pada 2011 lalu Perdana Menteri Kenya Raila Odinga menyatakan Kejaksaan Agung harus mencari pihak yang bertanggung jawab dalam peristiwa itu. "Kita belum tahu siapa yang memberi perintah kepada tentara dan siapa yang mengambil keputusan," kata Odinga seperti yang diberitakan BBC.

Odinga juga memerintahkan sebuah museum untuk dibangun untuk menghormati mereka yang terbunuh. Sementara Presiden Uhuru Kenyatta pun sudah meminta maaf atas peristiwa tersebut pada 2015 lalu.

Komisi Kebenaran, Keadilan, dan Rekonsiliasi Kenya sempat memeriksa beberapa pejabat keamanan di provinsi tersebut. Komisi ini mengambil kesimpulan telah terjadi serangan sistematis pada warga sipil yang memenuhi syarat digolongkan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Namun, menurut komisi itu, pemerintah Kenya menolak bekerjasama untuk menyediakan dokumen-dokumen khusus yang berkaitan pembantaian itu. Belum ada pihak yang dinyatakan bertanggungjawab atas pembantaian itu.

(pal/dnu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT