Pembantaian Klan Degodia Gegara Konflik Lahan Penggembalaan

ADVERTISEMENT

Mesin Waktu

Pembantaian Klan Degodia Gegara Konflik Lahan Penggembalaan

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Senin, 10 Feb 2020 21:27 WIB
Museum pembantai Wagalla di Kenya ( dok. Nation)
Foto: Monumen pembantaian Wagalla di Kenya ( dok. Nation)

Sementara penderitaan Osman semakin besar ketika melihat empat saudaranya dipenggal. "Saya justru mengharapkan mati saja di tempat itu," ujar Osman seraya menghapus air matanya.

Ketika para lelaki sudah dibawa ke Wagalla, tentara mulai membakar pemukiman. Beberapa kemudian mendekati perempuan-perempuan dan mengambil mereka untuk diperkosa. Salah satu perempuan memberi kesaksian, tentara itu berkata, "Kami telah membantai suami-suami kalian dan sekarang kamilah suamimu."

Penyiksaan brutal ini berlangsung kurang lebih lima hari. Orang-orang yang ditahan tentara tersebut hanya berbaring di atas bebatuan. Tanpa diberikan makanan dan minuman. Bagi mereka yang melarikan diri langsung ditembak mati. Satu per satu mereka tewas karena panas serta kehausan.

Menurut para korban yang bisa bertahan hidup sekitar lima ribu orang tewas dalam hari-hari kelam itu. Sementara pemerintah Kenya awalnya mengakui hanya ada 57 korban. Angka ini kemudian diralat menjadi 365 orang. Menurut Al Jazeera pembantaian itu sebagai bagian menghilangkan klan Degodia yang terlibat dalam konflik penguasaan lahan penggembalaan ternak di Wajir.

Kantor berita The Star di Kenya menyebut peristiwa itu merupakan tindakan genosida yang telah direncanakan. Dimulai dari pertemuan komite kabinet tingkat tinggi di Harambee House. Perintah diberikan untuk memulai operasi keamanan pada klan Somalia yang tinggal di Wajir.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT