Jokowi Tolak WNI Eks ISIS Pulang, Bagaimana dengan yang Anak-anak?

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 10 Feb 2020 17:18 WIB
Video pembakaran paspor hijau dan merah oleh anak-anak ISIS. (Dok Media Sosial)
Video pembakaran paspor hijau dan merah oleh anak-anak ISIS. (Dok Media Sosial)

Herwan menyatakan belum tahu kapankah rapat terbatas (rapat) soal kepulangan WNI eks ISIS itu akan digelar. Terlepas dari itu, dia memahami tingkat ideologi teror yang dianut orang dewasa tentu lebih berurat-akar dan lebih berbahaya ketimbang anak-anak. Upaya deradikalisasi lebih mudah berhasil bila dilakukan terhadap anak-anak. Dia memahami, negara-negara lain juga mempertimbangkan soal penerimaan kembali anak-anak eks ISIS semacam itu.

"Kalau kita mengacu pada negara lain, seperti Jerman, mereka menerima kembali anak-anak seperti itu. Australia dan Malaysia begitu juga," kata Herwan.

Dilansir AFP, belasan anak-anak dari petempur ISIS telah dipulangkan (repatriasi) dari Irak ke Jerman pada Maret 2019. Otoritas Jerman mengatakan anak-anak adalah 'korban' dan mereka harus dipulangkan bila ada keluarga yang mengambilnya. Anak-anak yang telah teradikalisasi akan ditempatkan di institusi khusus namun tidak dikekang.

Rusia dan Kosovo menjadi yang pertama dalam hal pemulangan eks ISIS. Tercatat ada 200 perempuan dan anak-anak yang dipulangkan pada Februari 2019. Kosovo, kawasan Eropa dengan komposisi penduduk 90 persen muslim, mengumumkan soal pemulangan 110 warganya dari Suriah. Hampir semua dari mereka adalah para istri dan anak dari petempur ISIS.

Tidak semua bersedia memulangkan warganya yang sempat bergabung dengan ISIS. Tunisia salah satunya. Pemerintah Tunisia khawatir pemulangan anak-anak akan mempercepat kepulangan orang tua mereka yang merupakan petempur ISIS.

Halaman

(dnu/tor)