Cerita Warga Kampung Kelelawar Maros di Tengah Merebaknya Virus Corona

M Bakrie - detikNews
Rabu, 05 Feb 2020 21:32 WIB
M Bakrie-detikcom/  Kampung kelelawar Parangtinggia, Desa Jene Taesa Maros Sulsel
Kampung kelelawar Parangtinggia, Desa Je'ne Taesa, Maros, Sulsel. (M Bakrie/detikcom)Foto: M Bakrie-detikcom/ Kampung kelelawar Parangtinggia, Desa Je'ne Taesa Maros Sulsel
Maros -

Kelelawar jadi perhatian seiring merebaknya virus Corona. Tapi, di kampung kelelawar di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), warga beraktivitas biasa. Tak ada ketakutan.

Warga Parangtinggia, Desa Je'ne Taesa, Kecamatan Simbang, Maros, hidup di tengah banyaknya kelelawar.

"Kelelawar ini pergi kalau magrib dan kembali ke sini subuh. Makannya di luar, tidak di sini. Pohon mangga dan pisang di sini tidak ada satu pun yang dimakan," kata warga, Kamaruddin Esaf, Rabu (5/2/2020).

Jangankan mengkonsumsi, warga tak mau mengganggu kelelawar yang bergelantungan di pohon.

Cerita Warga Kampung Kelelawar Maros di Tengah Merebaknya Virus CoronaKampung kelelawar Parangtinggia, Desa Je'ne Taesa, Maros, Sulsel. (M Bakrie/detikcom)

"Kami tidak cemas kalau dibilang kelelawar ini penyebab virus Corona. Karena selama ini kami tidak pernah ada yang saling ganggu. Apalagi mau tangkap atau dimakan untuk obat asma," lanjutnya.

Justru keberadaan banyaknya kelelawar membawa berkah tersendiri. Selain jadi tujuan wisata, kampung ini didatangi sejumlah peneliti kelelawar.

"Banyak orang barat yang datang ke sini meneliti. Terus juga banyak wisatawan. Manfaatnya itu usir hama juga. Kalau ada mau terjadi sesuatu, biasanya kelelawar ini terbang berputar-putar," sebutnya.

Dulu kelelawar di kampung ini hanya 3 ekor. Kelelawar itu dipelihara pemuka adat bernama Kamaruddin Pawata. Kini kelelawar jumlahnya makin banyak hingga kawasan ini disebut sebagai kampung kelelawar.

Cerita Warga Kampung Kelelawar Maros di Tengah Merebaknya Virus CoronaKampung kelelawar Parangtinggia, Desa Je'ne Taesa, Maros, Sulsel. (M Bakrie/detikcom)

Uniknya lagi, jenis kelelawar yang hidup di kampung ini berbeda dengan jenis kelelawar pada umumnya di Sulsel karena memiliki ciri khas dengan bulu putih di dadanya. Kotorannya juga tidak berbau seperti kelelawar hitam. Peneliti menyebut, kelelawar itu biasanya hanya ada di Amerika Latin.

"Dulu itu dipelihara sama bapak saya. Lama-lama sudah banyak. Sekarang mungkin sudah puluhan ribu ekor. Satu pohon itu bisa seribuan ekor bergelantungan. Peneliti bilang, jenis begitu hanya ada di Amerika Latin," terangnya.

Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Maros drh Ujistiani Abidin menyebut kelelawar wilayah pernah jadi bahan perbandingan penelitian oleh ahli Patologi.

Namun, untuk kemungkinan warga Maros terjangkit virus Corona, menurutnya, sangat kecil. Selain karena tidak bersentuhan langsung. Warga di kampung itu tidak ada yang mengonsumsi kelelawar meski untuk alasan berobat.

"Kemungkinannya kecil (tertular corona), karena kan mereka tidak bersentuhan langsung. Apalagi warga di sana tidak ada yang mau makan kelelawar walaupun untuk alasan obat. Mereka sangat paham dan sudah saling menjaga," pungkasnya.

(fdn/fdn)