PN Jaksel Lanjutkan Kasus Sopir Taksi Online Ari Darmawan ke Pokok Perkara

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 05 Feb 2020 17:11 WIB
Sidang Ari Darmawan
Foto: Sidang Ari Darmawan (zunita/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) menolak eksepsi (nota keberatan) yang diajukan sopir taksi online, Ari Darmawan. Sidang akan dilanjutkan ke tahap pemeriksaan saksi.

"Mengadili keberatan penasihat hukum tidak diterima. Melanjutkan perkara atas nama terdakwa Ari Darmawan alias Ari. Ketiga menangguhkan biaya perkara sampai ke putusan akhir," ujar hakim ketua Achmad Guntur saat membacakan putusan sela di PN Jaksel, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020).

Hakim Guntur menjelaskan terkait eksepsi yang diajukan Ari dan kuasa hukum mengenai adanya eror in persona, majelis hakim menilai untuk membuktikan suatu kasus atau perkara perlu adanya pembuktian terlebih dahulu. Oleh karena itu, hakim Guntur menilai perkara ini perlu dilanjutkan ke tahap pemeriksaan saksi.

"Menimbang materi keberatan terdakwa dan penasihat hukum adalah mengenai eror in persona yakni pelaku bukan pelaku yang sebenarnya. Menimbang bahwa majelis hakim tetap beranggapan bahwa terdakwa tetap dianggap orang tidak bersalah. Ddan untuk menentukan apakah terdakwa itu melakukan perbutan pidana, maka harus dibuktikan di persidangan dengan mendengarkan saksi-saksi dan meneliti barang bukti secara cermat, baik yang ditunjukkan jaksa penuntut umum atau penasihat hukum," jelas hakim Guntur

"Menimbang untuk menentukan eror in persona tidak bisa diputuskan dalam materi keberatan tanpa adanya pembuktian. Oleh karena itu materi keberatan eror in persona tidak diterima," sambungnya.

Selain itu, hakim Guntur juga menilai terkait eksepsi Ari yang menyatakan dakwaan tidak sah tidak memiliki alasan hukum.

"Menimbang setelah majelis hakim meneliti surat dakwaan jaksa penuntut umum, ternyata syarat-syarat dakwan sudah ditentukan sesuai KUHAP yang diacakan jaksa penuntut. Oleh karena itu, materi kebertatan tidak menyebabkan dakwaan batal dan tidak sah. Di samping itu juga terdakwa membuat pernyataan menolak untuk didampingi penasihat hukum," jelas hakim Guntur.

Kasus Ari ini bermula saat dua orang memesan taksi online lewat aplikasi pada 4 September 2019 dini hari. Dua penumpang itu meminta dijemput di Kemang Venue Jakarta Selatan dengan tujuan ke daerah Damai Raya Cipete Jakarta Selatan.

Tidak berapa lama, taksi online yang disopiri Dadang datang menjemput. Kedua penumpang lalu naik ke mobil. Setelah itu, aplikasi order dibatalkan.

Tetapi, aplikasi masih aktif mencari sopir taksi online (reblast). Ari langsung menerima order tersebut. Ari menghubungi kedua penumpang tapi tidak aktif.

Akhirnya Ari tidak jadi menjemput kedua penumpang, namun dituduh mengambil Hp, dompet dan tas milik penumpang. Padahal nyata-nyata, Ari tidak pernah menjemput penumpang itu.

Tonton juga video Begal Taksi Online di Bandung Didor Polisi:

[Gambas:Video 20detik]

(zap/asp)