Sebelum Menyusup, BIN Mesti Pahami Islam Secara Komprehensif
Selasa, 29 Nov 2005 13:29 WIB
Jakarta - Badan Intelijen Negara (BIN) berencana melakukan penyusupan ke berbagai organisasi radikal, termasuk kelompok Islam. Namun, sebelum melakukan penyusupan, BIN harus punya pemahaman yang komprehensif soal Islam."BIN boleh melakukan penyusupan tetapi harus mengindahkan norma-norma kemanusiaan dan HAM. Misalnya jika dia menyusup ke kelompok Islam radikal dia harus paham apa itu Islam secara komprehensif. Kalau tidak paham nanti repot, asal berbeda disalahkan," kata Ketua Fraksi PPP Endin Soefihara di sela-sela Rapat Paripurna DPR di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (29/11/2005).Namun, Endin menyesalkan pernyataan Kepala BIN Syamsir Siregar yang akan menyusup ke kelompok radikal. Seharusnya dia tidak mengumumkan hal itu karena kerja BIN adalah mencari informasi secara tersembunyi dengan cara apa pun."Harusnya tidak di-declare, habit badan intelijen ya penyusupan. Kalau di-declare bisa jadi menimbulkan saling curiga," terangnya.Hal yang sama disampaikan anggota Fraksi PKS Hilman Rosyad. Menurutnya, kerja BIN adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya sesuai tugas dan kewenanganannya. Tapi, jangan sampai pelaksanaan tugas BIN dalam bentuk penyusupan kontraproduktif dengan tujuan utamanya mencari informasi. Ini mengacu pada pengalaman masa Orde Baru yang justru kontraproduktif. "BIN harus elegan sehingga tidak menunjukkan dia adalah agen dalam suatu organisasi. Selain itu keberadaannya juga harus tidak menakut-nakuti," terangnya.Ungkapan yang sama disampaikan Ketua Fraksi PAN Abdillah Toha. "Ya pekerjaan intelijen adalah menyusup. Tapi yang penting jangan sampai melanggar HAM," ujarnya.Menyangkut terminologi Islam radikal, Abdillah minta agar diberikan penjelasan yang detil agar tidak menimbulkan multitafsir dan multiinterest. "Kalau tidak dikasih penjelasan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu," tegasnya.
(san/)











































