Pesantren Ngruki Tantang MUI dan Depag Soal Penafsiran Jihad
Selasa, 29 Nov 2005 13:04 WIB
Solo -
BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Ma'had Aly (sekolah tinggi agama) milik Pesantren Al Mukmin Ngruki menantang MUI dan Depag melakukan debat terbuka tentang definisi terorisme, jihad dan mati syahid. Mereka menilai oknum-oknum di kedua lembaga itu telah membuat penafsiran yang menimbulkan ambivalensi selain berusaha mendominasi penafsiran.Dalam jumpa pers yang digelar di Kampus Ma'had Aly Al-Mukmin di Ngruki, Cemani, Sukoharjo, Selasa(29/11/2005), Ketua BEM Zahrodin Fanani mengatakan surat tantangan untuk kedua lembaga tersebut telah dikirimkan hari ini. Selanjutnya pihak Ngruki menunggu reaksi atau sambutan yang diberikan."Kami sudah menyiapkan tim untuk berdebat dengan perwakilan yang ditunjuk oleh MUI dan Depag. Kami akan meminta kejelasan secara gamblang pendapat dan pandangan mereka tentang makna terorisme, jihad dan mati syahid. Waktunya terserah, kami menuruti saja sesuai kesiapan mereka. Namun kami berharap tempatnya berada pada posisi yang netral," ujar Zahrodin.Adi Basuki dari MMI Surakarta yang ikut dalam jumpa pers menilai terjadi distorsi oleh sejumlah ulama dan cendekiawan Indonesia mengenai definisi terorisme, jihad maupun mati syahid. Menurut Adi, distorsi tersebut besar kemungkinan sengaja dilakukan atas dasar kepentingan pihak-pihak tertentu untuk melakukan pembodohan umat dan pendangkalan akidah."Terlepas mendukung atau tidak terhadap aksi-aksi kekerasan, namun kita perlu memperjelas makna dandefinisi sebuah tindakan agar tidak kabur. Kami hanya akan membicarakan persoalan definisi sebuah persoalan dalam bingkai yang jelas sesuai syar'i, tidak tercampuri pemahaman yang didasarkan pada riwayat yang lemah dan kabur kebenarannya," papar dia.Sedangkan dosen atau ustad senior di Ma'had Aly Ngruki, M Thalib, secara tegas mengatakan semua pihak agar berhati-hati menerima penjelasan yang diberikan oleh oknum-oknum di lembaga MUI dan Depag karena berpotensi melakukan penyesatan dengan melakukan membuat fatwa secara sepihak.Tolak Dominasi MUI dan DepagDalam debat itu, kata Thalib, Ma'had Aly Ngruki akan mempertanyakan apakah sikap MUI dan Depag tentang terorisme, jihad dan mati syahid sesuai dengan lontaran yang disampaikan oknum-oknumnya yang selama ini sering keluar di media massa. Jika memang benar demikian, pihak Ngruki akan mempertanyakan secara terbuka dasar pengambilan kesimpulan terhadap tafsir itu."Kami juga menentang keras upaya mereka melakukan dominasi. Tidak ada yang memiliki otoritas mutlakdalam penafsiran agama. Mereka harus segera terbuka matanya, negara ini terpuruk karena ulamanya kurang ajar. Masyarakat harus diberi pengertian agar tidak kebingungan menghadapi fatwa-fatwa ambivalen yang dirumuskan secara premanisme seperti itu," lanjut Thalib.Lalu bagaimana penafsiran terorisme, jihad dan mati syahid, menurut Ma'had Aly Ngruki, tidak ada satu pun yang bersedia menjawab. Alasannya akan disampaikan setelah bertemu MUI dan Depag. Sebab jika dilontarkan sekarang, dikhawatirkan akan menimbulkan kontroversi seperti pendapat oknum MUI dan Depag karena pendapat itu juga masih sepihak dari Ngruki.Lalu apa yang akan dilakukan jika tantangan debat itu tidak mendapatkan respons dari kedua lembaga tersebut, menurut Thalib pihaknya akan mengajak pesantren-pesantren lain untuk mempersoalkan perilaku MUI dan Depag, terutama oknum-oknumnya yang telah membingungkan umat dalam membuat penjelasan demi kepentingan pemesannya.
(asy/)










































