Penyusupan BIN Bisa Picu Kekerasan Kelompok Islam Radikal
Selasa, 29 Nov 2005 13:00 WIB
Jakarta - Badan Intelijen Negara (BIN) diminta mengkaji niatnya untuk menyusup ke kelompok-kelompok Islam radikal guna mencegah terorisme. Berdasarkan pengalaman, penyusupan justru bisa membuat kelompok Islam yang mengedepankan cara-cara damai jadi terpancing melakukan kekerasan.Pandangan ini disampaikan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Riza Sihbudi menanggapi pernyataan Kepala BIN Syamsir Siregar bahwa BIN tidak segan-segan menyusup ke dalam kelompok-kelompok Islam radikal untuk melumpuhkan aksi terorisme. Riza merujuk pada terjadinya peristiwa Tanjung Priok dan Talangsari, Lampung. Peristiwa berdarah itu bermula dari operasi intelijen yang digalang aparat keamanan. Aparat menyusupkan dai-dai keras untuk membakar emosi massa."Saya kira penyusupan intelijen itu sangat riskan. Ini bisa menimbulkan suasana seperti tahun 80-an. Intelijen masuk, memprovokasi, lalu terjadi kasus Priok, Talangsari, dan sebagainya. Ini kurang bagus untuk situasi Indonesia sekarang ini," ujar Riza kepada detikcom, Selasa (29/11/2005).Riza juga meminta BIN dan aparat keamanan di Indonesia tidak mencampuradukkan antara radikalisme dengan terorisme. Penelitian yang dilakukan LIPI tentang Islam dan Radikalisme di Indonesia menunjukkan bahwa radikalisme tidak terkait dengan terorisme."Kita teliti kelompok-kelompok yang dicap radikal seperti MMI, FPI, Laskar Jihad, dan Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir, misalnya, mengedepankan caara-cara damai. Mereka memang menggelar aksi-aksi demo, tapi tidak destruktif. Jadi, radikalisme mereka itu sebatas pemikiran," jelas Riza.Kalaupun ada aksi kekerasan, lanjut Riza, itu bukanlah terorisme tapi tindakan pengrusakan kafe atau tempat-tempat hiburan malam oleh ormas Islam tertentu. "Ketika radikalisme menjadi tindakan seperti merusak kafe, itu adalah persoalan hukum."Menurut Riza, terhadap kelompok-kelompok radikal mainstream seperti MMI dan Laskar Jihad, yang harus dilakukan BIN atau aparat pemerintah lainnya adalah melakukan dialog. Tindakan penyusupan, apalagi menciptakan konflik internal, harus dihindari.Ditanya tentang kasus-kasus pemboman dan latar belakang Islam dari para pelakunya, Riza tidak menampik adanya kelompok Islam yang ekstrem. Tapi kelompok seperti ini bukan mainstream. Jadi, kalau pun akan melakukan penyusupan, BIN harus menggunakan kriteria yang ketat. "Apa kriteria radikal itu. Kalau yang digunakan persepsi yang subjektif, misal MMI itu radikal, itu justru bisa mendorong kelompok yang sebetulnya tidak punya strategi kekerasan, terpancing ke sana," demikian Riza Sihbudi.
(gtp/)











































