Ada Rekayasa Pojokkan Islam

Ada Rekayasa Pojokkan Islam

- detikNews
Senin, 28 Nov 2005 22:55 WIB
Jakarta - Seringnya umat Islam dipojokkan oleh setiap isu terorisme, membuat banyak kalangan ormas Islam gerah. Mereka menolak dengan tegas kalau Islam bukanlah teroris dan mensinyalir adanya rekayasa kelompok bahkan negara-negara tertentu untuk memojokkan Islam.Demikian kesimpulan dari diskusi tentang Jihad dan Terorisme yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) di Wisma Dharmala Sakti, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (28/11/2005). Hadir sebagai pembicara pengamat terorisme Anis Baswedan, Ketua Gerakan Umat Islam Indonesia Habib Abdurrahman Assegaf, Ketua MUI KH Cholil Ridwan, anggota Tim Pembela Muslim Achmad Mihdan dan Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad al-Khaththath.Menurut Anis, di Barat, ada kelompok-kelompok yang bekerja untuk memojokkan Islam dengan membuat opini yang mereka sebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Kelompok ini sangat eksis bahkan dapat dengan mudah dikenali."Mereka bermain opini. Tidak ada yang sulit dengan pekerjaan mereka dan sebenarnya ini jauh dari teori konspirasi yang rumit yang selama ini kita bayangkan," kata Anis yang menyelesaikan tesis doktoralnya mengenai terorisme.Dia menambahkan, aksi terorisme yang akhir-akhir ini marak terjadi merupakan bagian dari rekayasa kelompok tertentu untuk memojokkan Islam dan aksi-aksi tersebut memiliki pola yang teratur yang dapat dianalisa."Kalau kita perhatikan antara pelaku, kejadian serta fakta yang terungkap, sebenarnya ada pola yang sudah dirancang. Pola tersebut sama dengan pola yang telah direncanakan oleh kelompok tertentu untuk memojokkan Islam," jelasnya.Senada dengan Anis, Habib Abdurrahman menjelaskan bahwa kelompok yang bermain adalah Amerika Serikat (AS) dengan agen-agennya. Menurutnya, AS telah melakukan banyak rekayasa termasuk keberadaan Jama'ah Islamiyah (JI). Habib Abdurrahman pun menyayangkan tindakan yang dilakukan Dr Azahari dan kawan-kawannya, karena menurutnya Azahari memiliki pemahaman tentang Jihad yang salah. "Islam tidak mengajarkan membunuh. Mereka telah terdoktrin dengan ajaran yang salah," kata Habib tegas.Ketua MUI KH Cholil Ridwan juga menyayangkan hal yang sama. Hal ini karena pihak yang paling banyak menjadi korban adalah umat Islam. Dia menginginkan adanya pemahaman masyarakat tentang konsep jihad yang benar. Untuk itu, pihaknya saat ini tengah berupaya keras mengkaji dan merumuskan konsep jihad dan dalam waktu dekat akan segera disosialisasikan ke masyarakat. "Dengan adanya konsep ini nantinya, saya berharap tidak akan ada lagi salah persepsi tentang jihad," tandas Cholil.Pendapat Cholil dikuatkan oleh Ketua DPP HTI Muhammad al-Khaththath. Dia mengatakan persepsi tentang jihad tidak bisa begitu saja disalah artikan. Menurutnya harus ada kondisi dan syarat tertentu untuk melakukan jihad.Dia menjelaskan, jihad secara syar'i artinya berperang. Namun perang dalam konteks ini diartikan berhadap-hadapan dengan musuh. Hal ini harus dipahami dengan secara benar sampai aspek-aspek hukumnya dan tidak bisa sembarangan. "Oleh karena itu, saya tidak bisa melakukan pembenaran atas apa yang dilakukan oleh Dr. Azahari," ujar Muhammad al-Khaththath. (atq/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads