TNI Pilih F-16 Dibanding Sukhoi
Senin, 28 Nov 2005 21:20 WIB
Jakarta - TNI cenderung memilih menghidupkan kembali F-16 dibanding melengkapi jajaran baru Sukhoi untuk membangun satu skuadron pesawat tempur TNI AU dalam lima tahun ke depan. Pilihan ini didasarkan pada prinsip efisiensi. "Pemenuhan kepentingan nasional disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara. Kalau kita diharuskan memilih dua hal karena anggaran terbatas, maka pilihan kita adalah efisiensi," kata Panglima TNI Endriartono Sutarto.Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam jumpa pers usai diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) petang ini di Kantor Presiden, Jakarta Pusat. Pertemuan membahas rencana pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) itu juga diikuti oleh Menhan Juwono Sudharsono, KSAD Djoko Santoso, KSAL Slamet Soebijanto dan KSAU Joko Suyanto.Tarto mengatakan, anggaran membeli satu unit baru pesawat tempur Sukhoi ternyata bisa digunakan untuk menghidupkan kembali empat unit F-16. Artinya kebutuhan dana untuk mendapatkan suku cadang bagi 10 unit F-16 lebih kurang sama nilainya dengan tiga unit Sukhoi baru.Dengan kemampuan keuangan negara, diharapkan setiap tahunnya dua unit F-16 bisa kembali terbang. Dengan demikian ditargetkan pada akhir 2009, skuadron tempur tersebut bisa mulai aktif lagi laksanakan tugasnya.Berdasar hitungan sementara inilah, TNI cenderung memilih menghidupkan kembali F-16 yang sudah ada. Sepuluh pesawat tempur canggih buatan AS itu selama beberapa tahun terakhir mangkrak di hanggar karena suku cadang tertahan di sejumlah negara anggota NATO akibat embargo militer."Karena misalnya membeli satu Sukhoi bisa menghidupkan empat F-16, mengapa kita gunakan untuk beli satu sukhoi, dibandingkan kita menghidupkan empat F-16 yang kita miliki," tutur Tarto.Sukhoi Jalan TerusTapi bukan berarti TNI akan menghentikan program Sukhoi yang dirintis sejak dua tahun silam. Sebab idealnya RI juga memiliki satu unit skudron pesawat tempur canggih buatan Rusia itu demi keseimbangan kerja sama teknis pertahanan.Penjajakan peluang melengkapi persenjataan bagi empat unit Sukhoi yang sudah ada, dengan produk dari India dan Cina tetap dilanjutkan. Sementara pembelian unit pesawat baru, akan dilakukan begitu kondisi ekonomi negara membaik."Program Sukhoi tidak boleh berhenti. Jalan terus, sampai dia betul-betul merupakan unit siap operasional. Minimal kita punya satu skuadron," tegas Panglima TNI.
(atq/)











































