Tap MPR Soeharto
Gus Dur: Percuma Teriak-teriak
Senin, 28 Nov 2005 17:26 WIB
Jakarta - Tidak biasanya, Gus Dur memilih tidak banyak berkomentar atas kejadian politik di dalam negeri. Soal kemungkinan pencabutan Tap MPR XI Tahun 1998 tentang pengusutan korupsi penguasa Orde Baru, Soeharto, Gus Dur hanya menukas: "Percuma teriak-teriak"."Semua itu masalah politik. Kalau sudah MPR itu kan politik. Kita tidak tahu bagaimana perkembangan politik. Percuma saja mau teriak-teriak," ujar Gus Dur usai mengikuti dialog interaktif bertema "Perlukah Koter Muncul dalam Bingkai Negara Demokrasi," di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (28/11/2005).Tap MPR tersebut, kata Gus Dur, secara politik memang belum pernah diproses. Dia menilai pemberian penghargaan kepada Soeharto oleh partai Golkar dianggap sebagai akal-akalan. "Itu kan cuma akal-akalan," cetus mantan presiden ini.Dalam pandangannya, tujuan pemberian penghargaan oleh Partai Golkar diduga kuat untuk mendapatkan dukungan dalam pemilu yang akan datang.Ketika ditanya, apakah mantan penguasa Orde Baru itu masih kuat sehingga perlu dimintai dukungannya, Gus Dur hanya menjawab singkat: "Tidak tahu".Sikap yang sama juga ditunjukkan Gus Dur ketika ditanya apakah perlu pencabutan Tap MPR XI Tahun 1998. "Tidak tahu saya. Itu kan urusan politik. Pak Harto sudah bilang baru mau terima penghargaan itu kalau Tap MPR dicabut. Ya sudah, jadi apa message-nya Pak Harto. Apa-apa yang dituruti, apa kemauan Pak Harto, atau keinginan dari MPR," tandasnya dengan nada gusar.
(san/)











































