RI di Tepi Jurang Epidemi AIDS
Senin, 28 Nov 2005 15:36 WIB
Jakarta - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia makin lama makin bertambah. Indonesia pun berada di tepi jurang epidemi AIDS. Apagi saat ini terjadi peningkatan pengguna narkoba suntik, pekerja seks komersial, dan adanya kontak heteroseksual.Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif UNAIDS Peter Piot kepada wartawan saat jumpa pers di kantor Menko Kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (28/11/2005).Dikatakannya, pada tahun 2005 terjadi rekor baru yaitu jumlah yang terinfeksi HIV di Asia mencapai 8,3 juta. Padahal sepuluh tahun yang lalu, pengidap HIV di Asia baru 1 di antara 10 orang. Namun sekarang perbandingannya 1 di antara 5 orang telah terinfeksi.Selain itu terdapat penemuan di Indonesia yang mengkhawatirkan, yaitu sekitar 600 ribu pengguna narkoba suntik, separuhnya diperkirakan terkena virus HIV.Menurut Menko Kesra Alwi Shihab, hingga 30 September 2005, secara kumulatif jumlah pengidap HIV/AIDS sekitar 8.251 orang yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Namun angka itu tidak menggambarkan keadaan sebenarnya. Sebab, pada tahun 2002 pernah ada penelitian yang mengungkapkan jumlah penderita AIDS mencapai 90 ribu hingga 130 ribu orang.Adapun provinsi terbanyak yang terinfeksi adalah DKI Jakarta, Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sumut, Kalbar, Sulut, Kepulauan Riau, dan Riau Daratan. Rata-rata kumulatif di Provinsi Papua, jumlah penderita HIV/AIDS 15 kali lipat angka nasional atau sekitar 14.000. Selanjutnya DKI Jakarta 11 kali lipat angka nasional, dan di Bali 3 kali angka nasional.Berdasarkan data pengidap HIV/AIDS, pemerintah menggiatkan penyuluhan dan meminta kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat, sebab ini merupakan tanggung jawab bersama. Keseriusan ini terlihat dari pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) yang tersebar di sekitar 100 kabupaten/kota.Di samping itu, menurut data dari UNAIDS, populasi penghuni lembaga pemasyarakatan kasus narkoba di Jakarta, prevalensi HIV-nya meningkat dari 0 persen tahun 1999 menjadi 25 persen tahun 2002.
(san/)











































