Cegah Kasus Bunuh Diri, KPAI Minta Guru dan Kepsek Peka Masalah Siswa

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 30 Jan 2020 13:17 WIB
Komisioner KPAI, Retno Listyarti
Foto: Komisioner KPAI, Retno Listyarti (dua dari kanan). (Lisye-detikcom)
Jakarta -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong sekolah di DKI Jakarta untuk menerapkan program Sekolah Ramah Anak (SRA). Langkah itu untuk mencegah terjadinya percobaan bunuh diri pada siswa.

Komisioner KPAI, Retno Listyarti awalnya bercerita peristiwa percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang siswi SMP di Jakarta Timur. Retno mengatakan upaya percobaan bunuh diri pada anak kerap kali terjadi di Jakarta.

"Kasus untuk DKI Jakarta tercatat pada tahun lalu juga ada kasus bunuh diri siswi SMP di Jakarta Utara. Ini kasus kedua, setelah yang begitu heboh. Ternyata kami KPAI mendapatkan informasi bahwa ada beberapa sekolah itu yang muridnya melakukan juga melakukan percobaan bunuh diri, itu berbeda sekolah, artinya terjadilah suatu peniruan,"ujar Retno di gedung KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/1/2020).

Retno mengatakan seorang anak yang akan melakukan percobaan bunuh diri tentu ada beberapa faktor. Namun, KPAI menyerahkan ke polisi untuk mengusut motifnya.

"Anak-anak untuk melakukan bunuh diri bukan sesaat. Atau gara-gara satu hal, misalnya di-bully atau karena apa, tetapi pem-bully-an juga akan berlangsung panjang, kalau ada masalah keluarga juga berlangsung panjang. Jadi tidak mungkin seorang anak bunuh diri secara tiba-tiba, akan ada proses yang sangat panjang. Terkait dengan apakah motif dari ananda (Siswi SMP yang bunuh diri) kami menyerahkan kepada kepolisian untuk menelusuri," kata Retno.

Lebih lanjut, untuk mencegah peristiwa itu terjadi lagi, Retno minta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemprov DKI Jakarta untuk memberikan pelatihan kepada guru agar memiliki kepekaan terhadap anak. Retno menyebut pelatihan itu sebagai salah satu upaya pencegahan yang efektif untuk anak.

"Melakukan pelatihan bagi para guru agar memiliki kepekaan dan mengetahui cara mendeteksi peserta didiknya yang dirundung masalah dan bisa berpotensi melakukan bunuh diri. Pelatihan tersebut merupakan upaya pencegahan dan penanganan setidaknya mendidik guru-guru ini untuk melalukan screening awal," ujar Retno.

Retno berharap pelatihan itu dilakukan kepada kepala sekolah dan wali kelas. Sehingga setiap guru diharapkan memiliki kepekaan dan mengetahui tanda-tanda apabila anak sedang dirundung masalah.

"Pelatihan ini diperuntukkan bagi Kepala Sekolah dan para guru yang menjabat sebagai wali kelas dan pembina ekstrakurikuler, bukan hanya guru Bimbingan Konseling yang memiliki kemampuan konseling. Setiap guru setidaknya memiliki kepekaan dan mengenali tanda-tanda anak yang dirundung masalah dan yang memiliki ide bunuh diri. Pencegahan Lebih baik daripada penanganan dan penyembuhan," jelas Retno.

Selanjutnya
Halaman
1 2