Mesin Waktu

Saat Seribu Serdadu Gagal Gulingkan Presiden Filipina

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Senin, 27 Jan 2020 21:35 WIB
Presiden Corazon C. Aquino didampingi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipinan Jenderal Fidel Ramos (Malacanang Museum)
Foto: Presiden Corazon C. Aquino didampingi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipinan Jenderal Fidel Ramos (Malacanang Museum)
Jakarta -

Tepat tanggal ini pada 1987, sejumlah perwira militer Filipina dipimpin Kolonel Oscar Canlas mencoba melakukan kudeta atas pemerintahan Presiden Corazon C Aquino. Gerakan ini diawali dengan menguasai gedung stasiun televisi swasta Channel 7 dan stasiun radio DZBB di kota Manila.

Indikasi akan terjadi kudeta sudah diketahui intelijen Filipina seminggu sebelumnya. Menurut laporan yang dinukil dari The Final Report of the Fact-Finding Commission IV: Military Intervention in the Philippines: 1986 - 1987 terdapat empat kelompok yang berniat menggulingkan pemerintahan Presiden Aquino.

Mereka adalah para loyalis eks Presiden Ferdinand Marcos, anggota militer yang setia pada mantan Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile, para perwira yang tidak suka akan cara Presiden Aquino memadamkan sejumlah pemberontakan, dan sejumlah pengusaha kelas kakap.

Pada 27 Januari, grup loyalis Marcos yang sebagian besar anggota Guardians Brotherhood Inc (GBI) bergerak. GBI merupakan sebuah organisasi militer yang mengklaim memiliki keanggotaan sekitar 70% dari total kekuatan Angkatan Bersenjata Filipina.

Kelompok ini berusaha menguasai empat target yakni Villamor Air Base, Sangley Point Air Base, Fort Bonifacio, dan stasiun televisi. Pukul 1.30 pagi dipimpin Mayor Ruben Sagmit menggerakkan anggotanya ke gedung stasiun Channel 7. Mereka menyandera puluhan karyawan. Sejam kemudian tiba tiga truk prajurit dengan senjata berat memperkuat kelompok itu.