Mentan Ajak Akademisi Rumuskan Konsep Usaha Ternak yang Adil
Minggu, 27 Nov 2005 10:16 WIB
Jambi - Menyadari struktur usaha peternakan yang belum ideal, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono, mengajak kalangan civitas akademika di Tanah Air untuk bersama-sama memikirkan skema usaha peternakan yang lebih berkeadilan."Saya tantang kalangan perguruan tinggi untuk ikut merumuskan konseppengembangan usaha ternak yang adil di Indonesia," kata Anton dalam siaran pers yang diterima detikcom Sabtu, (26/11/2005).Hal ini disampaikannya dalam ceramah kunci seminar "Revitalisasi dan Strategi Pengembangan Ternak Ruminansia" di Universitas Jambi. Ikut hadir dalam acara ini Wagub Jambi Anthonie Z. Abidin, Rektor Universitas Jambi Kemas Arsyad Shomad, para Kepala Dinas Peternakan/Pertanian se-Jambi, serta dosen, peneliti dan perwakilan mahasiswa di Jambi.Dalam paparan di luar teks, Anton mengaku prihatin dengan struktur usahaternak yang menempatkan usaha peternakan rakyat dalam posisi marginal danselalu tergantung pada usaha peternakan besar. "Bayangkan, usaha ternak besar menguasai mulai dari hulu sampai hilir. Produksi pakan dan DOC yang dikuasai peternakan besar tak pernah turun. Sementara harga ternak dan daging selalu berfluktuasi," jelasnya.Dalam rangka revitalisasi peternakan, tegas Mentan, pihaknya ingin secarabertahap mengubah usaha ternak yang lebih proporsional dan berkeadilan."Yang hendak kita bangun bukan hanya peningkatan produktivitas dan kualitas ternak. Tapi, pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan peternak, terutama peternak kecil-kecil yang selama ini belum mandiri dan tergantung pada peternakan besar," urainya. Mentan juga berharap, ada sinergi dan kerjasama yang saling menguntungkan antarusaha ternak. Karena menurutnya, revitalisasi sektor peternakan adalah kesadaran, pemahaman, sekaligus kebijakan untuk menempatkan kembali arti peternakan secara proporsional dan kontekstual. Proposional diartikan ada kaitannya dengan berbagai aspek lain dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan kontekstual, diartikan sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Indonesia serta tetap memperhatikan perkembangan global yang penuh dengan tantangan dan peluang.Terkait dengan isu-isu strategis yang berkembang saat ini, Mentanmenjelaskan, untuk ternak unggas sebagai pemasok utama telur dan dagingayam, kebijakan pembangunan peternakan diarahkan kepada upaya mengatasidan mencegah penyebaran penyakit flu burung terkait dengan pelaksanaan'TUMPAS AI' dan perdagangan antarpulau atau antarwilayah. "Ancaman masuknya CLQ (paha ayam) yang tidak terjamin aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) serta dinamika pengembangan usaha ayam ras akibat penurunan daya beli masyarakat," paparnya.Sedangkan untuk pengembangan sapi potong dan kerbau sebagai pemasok utama daging, kebijakan pembangunannya diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan kecukupan daging di dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor,penanggulangan pemotongan betina prosuktif, serta ancaman masuknya dagingilegal yang tidak terjamin ASUH. "Kita berupaya impor sapi dan daging setara 864.220 ekor (28,26%) pada tahun 2005 akan turun menjadi 88.090 ekor pada tahun 2010 (2,4%)," tambahnya."Untuk itu kita amat mendorong percepatan keberhasilan seperti integrasi ternak sapi dengan kelapa sawit di bengkulu, intensifikasi IB di Sumbar, penggemukan sapi dengan menggunakan pakan lengkap di Jawa dan Bali," lanjutnya.Untuk ternak kambing dan domba, tambah Anton, diarahkan kepada upaya untuksubstitusi daging sapi, mengantisipasi kebutuhan hewan korban dan aqiqahyang jumlahnya diperkirakan meningkat tajam pada masa mendatang. Selainitu ada permintaan sangat besar dari berbagai negara, termasuk Arab Saudi, terhadap produk ini.Untuk ternak perah sebagai penghasil susu, lanjut Anton, kebijakan pembangunan peternakan diarahkan kepada upaya untuk meningkatkan suplai susu dalam negeri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan peternak terhadap industri pengolahan susu (IPS).Menurut Mentan, pendekatan yang dilakukan melalui identifikasi pembinaan, peningkatan dan pengembangan kawasan baru termasuk di luar Pulau Jawa, merintis pengembangan kambing perah, kerbau perah, dan ternak dual purpose serta melakukan sosialisasi dan promosi yang lebih luaskepada masyarakat.
(ahm/)











































